Surabaya (Antara Jatim) - Gedung Wisma Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) di Jalan Thamrin 53 Jakarta Pusat yang terbakar Senin (9/3), akan dirobohkan lalu dibangun baru setinggi 40 lantai. "Gedung rencananya akan dirobohkan dan dibangun baru, bukan renovasi. Ini juga berdasarkan rekomendasi Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspinas)," ujar pemilik gedung Wisma Kosgoro Hayono Isman, kepada wartawan di sela Muspinas Kosgoro yang berlangsung 24-25 Maret di Surabaya, Rabu. Salah satu alasan pembangunan baru wisma yang berdiri sejak 1974 di atas tanah pemberian Presiden Soekarno tersebut, karena ingin menumbuhan semangat gotong royong dan tidak ingin melihat gedung kalah bersaing dengan "pencakar langit" lainnya. "Tapi bukan mewah-mewahan. Kami hanya tidak ingin bernasib sama dengan Gedung Sarinah yang pernah terbakar dan hanya direnovasi, namun sekarang tertinggal dengan Grand Indonesia maupun Plaza Indonesia," tukasnya. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) tersebut memperkirakan, anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan gedung mencapai Rp1,2 triliun. Sebagai modal awal, lanjut dia, 34 Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro se-Indonesia sudah menyiapkan dana sebesar Rp150 miliar. Kendati demikian, Hayono Isman yang juga menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro itu dalam waktu dekat akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan bagaimana nasib gedung 20 lantai tersebut ke depan. Tidak itu saja, dalam RUPS juga akan dibahas usulan pergantian nama Wisma Kosgoro menjadi Grha Kosgoro atau Menara Kosgoro. "Segera akan kami gelar RUPS. Tapi sekali lagi, hasil Muspinas mengamanatkan bahwa gedung akan dirobohkan dan dibangun baru," katanya. Sementara itu, Direktur Wisma Kosgoro Suryo Adi Prasetyo meminta maaf atas kebakaran yang terjadi sekitar 18 jam tersebut, dan berharap kejadian itu menjadi momentum untuk bangkit. Sampai saat ini, kata dia, polisi masih belum memastikan penyebab kebakaran dan masih terpasang garis polisi agar lokasi tidak dimasuki sembarangan orang. "Lantai 1-15 boleh masuk, namun sekadar ambil dokumen. Sedangkan, lantai 16-20 tidak boleh masuk, selain dikawal petugas serta alasan tertentu," ucapnya. Pihaknya juga memastikan bahwa saat kejadian, Senin (9/3) sekitar pukul 18.00 WIB, alat pemadam ringan maupun lainnya milik gedung berfungsi normal sehingga bisa meminimalisasi peristiwa. "Semua normal dan saat alarm berbunyi, petugas bisa mengendalikan keadaan, khususnya karyawan yang kebetulan juga waktunya jam pulang. Kami juga bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut," tutur Suryo. (*)

Pewarta:

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015