Kediri (Antara Jatim) - Erupsi Gunung Kelud (1731 mdpl) yang berada di perbatasan tiga kabupaten di Jatim, yaitu Kediri, Blitar dan Kabupaten Malang pada Kamis (13/2) malam, membuat banyak orang tidak menyangka.
Betapa tidak. Hanya rentang dalam waktu sekitar dua pekan, gunung itu erupsi, memuntahkan seluruh isi, berupa pasir, debu serta batu. Besarnya bervariasi, ada yang berukuran lembut berupa pasir, tapi ada yang juga besar, sampai ukuran meja.
Perubahan status Gunung Kelud itu mulai terjadi pada Minggu (2/2), di mana awalnya status Aktif Normal berubah menjadi Waspada. Lalu, pada Senin (10/2) status kembali naik dari Waspada menjadi Siaga, lalu terjadi erupsi pada Kamis, selang tiga hari dari status Awas.
Tak banyak persiapan yang dibawa warga ketika harus dievakuasi. Sebab, mereka tidak menyangka Gunung Kelud yang awalnya terlihat tenang justru erupsi.
Ismuntin (52) warga Dusun/Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung menyebut erupsi yang terjadi di Gunung Kelud pada saat ini sungguh di luar dugaan.
"Saya tiga kali mengalami ini (erupsi), pada 1990, 2007, dan terakhir ini (2014), tapi yang parah ya 2014 ini," katanya ditemui di tempat pengungsian di sebuah SDN Siman, Kecamatan Kepung, Kediri.
Ia terpaksa meninggalkan rumahnya, takut dengan amukan Gunung Kelud. Saat suara pertama erupsi terjadi, terdengar seperti suara dentuman bom. Sontak, ia dengan keluarganya lari, membawa barang seadanya.
"Suaranya menggelegar. Tidak berpikir panjang membawa barang apa saja, tapi yang penting orangnya selamat," ucapnya.
Ia mengungsi ke SDN Siman ini, bersama dengan para tetangganya. Jaraknya, hanya sekitar 15 kilometer dari puncak kawah Gunung Kelud. Rumahnya sendiri berjarak 5 kilometer, jadi sangat berbahaya terkena dampak erupsi.
Ia dengan para tetangganya sempat menyaksikan, bagaimana erupsi terjadi pada Kamis malam tersebut. Petir menggelegar, cuaca hitam pekat, tak berhenti. Selang beberapa lama, guyuran kerikil keras turun. Persis seperti hujan, hanya saja bukan pasir.
Sekitar tiga jam, gunung itu mengeluarkan 120 hingga 150 juta meter kubik material vulkanik berupa batu, kerikil, dan pasir, abu. Sontak ketebalan pasir cukup luar biasa. Di Kota Kediri misalnya, yang jaraknya sekitar 50 kilometer dari puncak Gunung Kelud, ketebalan pasir mencapai 10-15 centimeter.
Fenomena itu, menurut Ismuntin luar biasa. Saat cuaca buruk pun, tidak pernah sampai terjadi seperti saat erupsi Gunung Kelud, Kamis lalu.
Kuswan (34), warga lainnya menyebut pernah menengok rumahnya pascaerupsi yang terjadi pada Kamis (13/2). Kondisinya sangat berantakan.
Rumahnya dipenuhi material vulkanik berupa pasir dan batu. Akibatnya, terdapat beberapa atap yang bocor. Selain itu, juga terdapat sejumlah rumah tetangganya yang terbakar pascaerupsi.
"Banyak batu sebesar bola kasti di jalan. Saat datang pertama kali, kami tidak menyangka dampak erupsi seperti ini," ungkapnya.
Ia sempat merinding, dan khawatir jika terjadi erupsi susulan. Bahkan, sempat beredar kabar jika ada ancaman gas beracun. Namun, ia harus memberi pakan ternaknya yang tidak sempat dievakuasi, serta membersihkan rumah.
Kepala PVMBG Muhammad Hendrasto menyebut, saat erupsi Gunung Kelud, material yang dikeluarkan bisa sampai 120 juta meter kubik. Bentuk erupsi yang terjadi adalah erupsi secara eksplosif vertikal dengan ketinggian mencapai 17 kilometer ke arah barat.
Erupsi eksplosif vertikal itu hanya terjadi tak kurang dari tiga jam. Kejadian itu, dikatakan hampir setara dengan erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta, tapi dalam rentang waktu satu bulan.
Hendrasto menyebut berdasarkan pengalaman, erupsi Gunung Kelud tersebut memang tidak terus menerus, hanya berlangsung beberapa hari.
"Kalau melihat pengalaman sebelumnya, erupsi Kelud ini hanya beberapa hari dan mudah-mudahan ini ikuti pola lama," tuturnya.
Erupsi itu juga merusakkan sejumlah alat milik PVMBG yang dipasang, termasuk kamera pengintai atau "CCTV". Petugas sempat kesulitan mengetahui kondisi terakhir Gunung Kelud.
Sampai saat ini, kepulan asap berwarna putih masih terus keluar setinggi 600 meter. Status sampai saat ini sudah turun dari Awas ke Siaga, dengan radius dari 10 kilometer menjadi tinggal 5 kilometer harus steril.
Ia juga menegaskan, letusan yang terjadi di Gunung Kelud ini bersifat "eksplosif", dengan ditandai guyuran hujan batu dan letusan secara vertikal.
"Untuk lelehan lava, biasanya itu terjadi pada letusan "efusif", tapi yang sekarang itu eksplosif," jelas Hendrasto.
Dampak Erupsi Kelud
Dampak erupsi Gunung Kelud menyerang segala sektor, bukan hanya bangunan fisik tapi juga sektor lainnya baik pertanian, perkebunan, perekonomian, maupun peternakan.
Terdapat sekitar 19 ribu rumah yang rusak baik ringan, sedang, ataupun berat tersebar di empat kecamatan terdampak, yaitu Kecamatan Ngancar, Plosoklaten, Kepung, dan Puncu. Bangunan itu terdiri dari rumah, sekolah, ataupun fasilitas umum lainnya.
Pemerintah belum bisa memastikan tingkat kerugian akibat erupsi Gunung Kelud tersebut, sebab tim sampai saat ini terus melakukan pendataan. Namun, kerugian diperkirakan sampai miliaran rupiah.
Di empat kecamatan terdampak didominasi tanaman kebun dan sayur. Untuk lahan perkebunan banyak ditanami kopi, cengkih, tebu, serta tanaman perkebunan lainnya.
Sementara, untuk pertanian didominasi tanaman sayur seperti tomat, cabai, kacang panjang, dan sejumlah sayur lainnya. Untuk sektor peternakan, didominasi ternak sapi, kambing, serta ayam.
Pascaerupsi Gunung Kelud tersebut, sejumlah petani juga sudah memantau kondisi tanaman mereka, dan ternyata rusak akibat guyuran abu vulkanik.
Kuswari (34), petani asal Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, misalnya. Ia menanam cabai seluas 1,025 hektare. Pada bulan-bulan ini, tanaman cabai itu harusnya panen, tapi gagal.
Hal senada juga diungkapkan oleh Toyib (45), petani lainnya. Ia menanam cabai seluas 0,25 hektare dan masih dua kali panen. Selanjutnya, ia sudah tidak tahu lagi, apakah bisa panen, mengingat tanamannya rusak.
"Kami berharap ada ganti rugi, bukan hanya ganti bibit. Pengeluaran kami cukup besar. Untuk sewa lahan saja mencapai Rp7 juta per 0,2 hektar per tahun.
Walaupun kerugian pasti belum ada data, Pemerintah Provinsi Jatim memprediksi kerugian sampai Rp1,2 triliun akibat erupsi Gunung Kelud itu dan dimungkinkan akan terus bertambah karena pendataan hanya bersifat awal.
Ketua Posko Induk Penanggulangan Bencana Gunung Kelud, Akhmad Sukardi di Surabaya menyebut kerugian di tiga daerah yang terdampak langsung erupsi Gunung Kelud, yaitu Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang terbesar ada pada sektor komoditas pertanian, seperti padi, jagung, kedelai, cabai, tomat, kentang, nanas, dan bunga mawar, yang nilainya mencapai Rp1,1 triliun.
Sedangkan, kerugian untuk perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkih dan tebu yang ada di tiga daerah, yakni Kediri, Blitar dan Malang nilainya mencapai Rp84 miliar.
Selain itu, kerugian sektor peternakan yang meliputi sapi perah, sapi ternak dan peternakan lainnya sebesar Rp13 miliar.
Kerugian tak kalah besar, juga didata pada sektor pendidikan, meliputi kerusakan sekolah tingkat sekolah dasar, menengah pertama hingga menengah atas/kejuruan, diperkirakan mencapai Rp2,7 miliar.
Ancaman Lahar Hujan
Erupsi Gunung Kelud bukan hanya berdampak saat hal tersebut terjadi, melainkan pascaletusan. Bahkan, pekerjaan yang penanganannya lebih berat pascaerupsi.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Kabupaten Kediri Letkol Infanteri Heriyadi. "Lebih berat penanganan pascaerupsi," tukasnya.
Berbagai hal yang harus dihadapi pascaerupsi itu seperti masalah material vulkanik berupa pasir dan batu yang menutup seluruh kawasan, serta ancaman lahar hujan yang mengalir di sejumlah jalur lahar.
Awal pascaerupsi terjadi, seluruh jalan, maupun bangunan memang dipenuhi dengan material vulkanik berupa pasir. Di Kota Kediri, ketebalan bisa sampai 10-20 centimeter.
Tak jarang, saking tidak kuatnya menahan material vulkanik, banyak bangunan yang ambruk, ataupun atap yang runtuh. Saat hujan terjadi pun, pasir yang belum sempat dibersihkan jatuh. Kondisi itu tentunya membuat ruangan kotor.
Namun, tak kalah harus diperhatikan adalah ancaman lahar hujan/dingin. Air mengalir membawa material vulkanik dan lewat di jalur lahar. Sejumlah bangunan juga rusak akibat terjangan lahar hujan yang melanda baik Kabupaten Kediri ataupun Malang. Bahkan, hektaran areal pertanian juga tak kalah rusak diterjang lahar hujan tersebut.
Pemerintah Pusat berencana membangun kantung lahar baru mengantipasi tidak mampunya kantung lahar yang ada menampung material vulkanik kelud. Saat ini, sudah terdapat 11 kantung lahar yang tersebar di dua daerah yaitu Kabupaten Kediri dan Blitar.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menyebut kantung lahar yang ada hanya bisa menampung 14,5 juta meter kubik material Gunung Kelud, seperti pasir. Padahal, diprediksi lumpur (pasir) yang ada di atas (kawasan gunung) mencapai 20 juta meter kubik.
Walaupun pemerintah memutuskan telah menurunkan status Gunung Kelud dari awas menjadi siaga pada Kamis (20/2), ancaman lahar hujan masih berpotensi, terutama ketika curah hujan tinggi.
"Kalau hujan deras bisa saja lahar dingin turun dan tingkat berbahayanya juga tinggi, karena saat turun bisa sampai membawa batu besar-besar," kata Kepala PVMBG Muhamad Hendrasto.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2014
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2014