Universitas Ciputra Surabaya mengembangkan sistem kampus inklusif berbasis data melalui peluncuran panduan kelas inklusif dan integrasi platform Ciputra Education Digital Experience (CEDX) guna mendukung dosen memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas secara terstruktur.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Pedoman Panduan Kelas Inklusif Universitas Ciputra hasil kolaborasi dengan Kemensos RI sebagai panduan praktis bagi dosen memahami karakteristik dan kebutuhan mahasiswa disabilitas di ruang kelas.

“Kesalahan terbesar kampus adalah tidak memulai untuk membangun kesadaran dan menciptakan lingkungan inklusif. Universitas Ciputra menunjukkan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ujar Penyuluh Sosial Ahli Muda Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) Santi Utami Dewi, S.Pd., M.Si., dalam Workshop Disability Awareness: Membangun Kesadaran, Menciptakan Lingkungan Inklusif, Selasa.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Disabilitas Universitas Ciputra Yehuda Abiel, S.Sos., M.A., mengatakan kampus mulai mengintegrasikan data mahasiswa disabilitas ke dalam sistem pembelajaran melalui platform CEDX.

“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness, tetapi masuk ke sistem. Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya, lengkap dengan panduan yang relevan, sehingga bisa lebih siap dalam merancang proses pembelajaran,” katanya.

Fitur yang diluncurkan pada 4 Mei 2026 itu memungkinkan dosen melihat tampilan khusus terkait mahasiswa disabilitas yang mengikuti mata kuliahnya beserta guidebook sebagai panduan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan mahasiswa.

Universitas Ciputra juga menyiapkan pengembangan dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA) yang direncanakan aktif mulai September 2026 setelah Orientation Week (O-Week).

Melalui fitur tersebut, dosen PA dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal dan melakukan pendampingan lebih terarah serta berkoordinasi dengan admin support terkait kebutuhan pembelajaran.

Universitas Ciputra tetap menempatkan privasi mahasiswa sebagai prioritas dengan belum membuka data secara luas kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah karena masih memerlukan persetujuan tertulis mahasiswa.

“Kami ingin membangun ekosistem yang benar-benar siap, bukan hanya ramah. Inklusivitas harus hadir dalam sistem, agar dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” tutur Yehuda.

Pewarta: Willi Irawan

Editor : Astrid Faidlatul Habibah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026