Kami ditugaskan membuka dua spesialis dan satu profesi psikologi, dan kami merespons dengan segera

Surabaya (ANTARA) - Universitas Ciputra Surabaya meresmikan tiga program studi meliputi pendidikan dokter spesialis obstetri ginekologi, bedah, serta profesi psikolog tahun ajaran 2026/2027 untuk merespons kebutuhan mendesak tenaga kesehatan secara nasional kian tinggi.

“Ini benar-benar mendesak. Kami ditugaskan membuka dua spesialis dan satu profesi psikologi, dan kami merespons dengan segera,” ujar Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Wirawan Endro Dwi Radianto, M.ScA., CA., Ak., di Surabaya, Sabtu.

Tiga prodi yang dibuka yakni Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), Pendidikan Dokter Spesialis Bedah, serta Pendidikan Profesi Psikolog. 

Tema yang diusung adalah “Integrating Mind, Body, and Surgical Excellence” guna mengintegrasikan keilmuan medis, psikologi, dan keterampilan bedah secara komprehensif.

Rektor mengungkapkan animo pendaftar sangat tinggi bahkan melampaui kuota yang ditetapkan, sehingga kampus mempertimbangkan penambahan kapasitas. Hal ini dinilai mencerminkan besarnya kebutuhan dokter spesialis dan psikolog, terutama untuk pemerataan layanan kesehatan.

Dalam pelaksanaannya, kampus menggandeng sejumlah rumah sakit sebagai wahana pendidikan klinis, termasuk RSUD dr. Soewandhie Surabaya. Masa studi profesi psikolog ditempuh sekitar 1,5 tahun, sedangkan pendidikan dokter spesialis berlangsung selama empat tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, Sp.B., Fellow of Indonesian College of Surgeons (FINACS), Fellow of International College of Surgeons (FICS) menyebut kebutuhan dokter spesialis, khususnya bedah, masih belum terpenuhi.

“Produksi dokter spesialis masih kurang. Bahkan antrean operasi di rumah sakit masih panjang,” katanya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, Sp.OG (K), Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (FER) menambahkan bahwa pembukaan program spesialis memerlukan persiapan kompleks, baik tenaga medis maupun fasilitas.

“Prosesnya tidak sederhana. Untuk pendidikan spesialis, pencatatan dan penanganan harus dilakukan oleh dokter spesialis. Ini menjadi tantangan tersendiri, sehingga kami menyiapkan sistem dan kolaborasi dengan rumah sakit agar kurikulum tetap berjalan,” ujarnya.

Ia menekankan ketersediaan pasien menjadi faktor penting dalam pembelajaran klinis serta didukung fasilitas modern, termasuk teknologi operasi minimal invasif.

“Kami menggunakan pendekatan operasi minimal, tetapi dengan teknologi yang canggih. Semua peralatan dan fasilitas kami siapkan untuk menunjang kualitas pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Universitas Ciputra, Dr. Stefani Virlia, M.Psi., Psikolog menjelaskan kurikulum profesi psikolog kini mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2022 dengan empat latar layanan utama.

“Tahun ini profesi psikolog mengacu pada UU Nomor 23 Tahun 2022. Kalau dulu mahasiswa memilih satu peminatan, sekarang ada empat latar layanan yang harus ditempuh, yaitu kesehatan, pendidikan, tempat kerja, dan komunitas. Setiap latar memiliki praktik lapangan minimal 270 jam sehingga lulusan menjadi psikolog umum yang bisa menangani berbagai kasus,” ujarnya.

Program ini ditempuh selama tiga semester dengan fokus teori, praktikum, serta praktik lapangan di berbagai institusi seperti puskesmas, rumah sakit, lembaga pendidikan, perusahaan, hingga komunitas.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026