Malang - Sampah yang mengalir ke Waduk Sengguruh yang berlokasi di Kabupaten Malang selama musim hujan rata-rata mencapai 200 meter kubik per hari. "Sampah yang masuk ke Waduk Sengguruh pada musim kemarau tidak sampai 30 meter kubik/hari, namun saat musim hujan bisa mencapai 200 meter kubik/hari. Kondisi ini bisa mempercepat laju sedimentasi," kata Juru Bicara dan Humas Perum Jasa Tirta I Tri Hardjono di Malang, Selasa. Untuk menghambat laju sedimentasi di waduk tersebut, katanya, sepanjang tahun pihaknya melakukan pengerukan dengan menggunakan kapal keruk. Hanya saja, pengerukan sedimen tersebut tidak sebanding dengan banyaknya sampah yang masuk ke waduk. Sampah yang masuk ke waduk dari aliran Sungai Brantas itu, lanjutnya, berupa plastik, kasur, batangan kayu, limbah tanaman sayuran serta enceng gondok. Selain sampah, kata Tri, juga ada limbah industri yang dibuang ke sungai oleh sekitar 200-250 perusahaan besar dan kecil di wilayah PJT I Malang. Volume limbah yang dibuang ke sungai itu juga cukup tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh, tingkat sedimentasi di Waduk Sengguruh rata-rata mencapai 1,28 juta m3/tahun. Sedangkan di Bendungan Sutami atau Karangkates, mencapai 5,43 juta m3/tahun. Tri mengakui, tingginya sedimentasi di waduk tersebut berdampak pada menurunnya produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dari sekitar 29 Mega Watt (MW) per hari menjadi 18 MW per hari. "Kami berharap pada masyarakat, khususnya yang ada di bantaran Sungai Brantas dan biasanya padat penduduk, menghentikan kebiasaan buruknya membuang sampah di sungai. Sebab, sampah yang mengalir di sungai ini akan bertambah volumenya ketika memasuki kawasan padat penduduk di Kota Malang," katanya, menambahkan. Bendungan Sengguruh berfungsi membantu menambah pasokan air untuk PLTA sekaligus untuk menahan laju sedimentasi di Bendungan Sutami yang selama ini menjadi pemasok utama pembangkit listrik, irigasi dan bahan baku air minum di Jatim.(*)

Pewarta:

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2013