Universitas Brawijaya (UB) berharap, fasilitas Infectious Disease Center Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Kota Malang, Jawa Timur berkembang menjadi pusat riset untuk mengkaji penyakit menular.

"Kami memiliki keinginan center ini menjadi tempat kajian-kajian, khususnya menyangkut infectious disease (penyakit menular)," kata Rektor UB Widodo setelah peresmian fasilitas Infectious Disease Center RSUB di Malang, Sabtu.

Pengembangan yang dilakukan pada fasilitas tersebut selaras dengan semangat kampus tersebut untuk menghadirkan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Riset tersebut bertujuan membangun proses terapi maupun pembuatan vaksin untuk menangani beragam jenis penyakit menular, termasuk varian baru yang berpotensi muncul di masa depan.

Ia menjelaskan keberadaan pusat penyakit menular ini tidak bisa dilepaskan dari peran berbagai pihak, salah satunya Kedutaan Besar Uni Eropa untuk Indonesia.

Pihak Kedutaan Uni Eropa, katanya, membantu alat-alat medis untuk mengoperasionalkan fasilitas Pusat Penyakit Menular.

Fasilitas terbaru RSUB mencakup layanan dan fasilitas inti, mulai layanan rawat jalan penyakit menular, layanan gawat darurat, fasilitas penitipan anak untuk transit kasus non-definitif, layanan rawat inap penyakit menular, hingga Laboratorium Tingkat Keamanan Hayati 2 (BSL-2).

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi mengatakan Infectious Disease Center RSUB bagian kemitraan investasi Global Gateway yang lebih luas dengan Pemerintah Indonesia di bidang kesehatan, pendidikan, dan penelitian.

"Uni Eropa dan negara anggotanya, melalui pendekatan tim Eropa bermitra dengan kementerian di Republik Indonesia dan dengan Rumah Sakit Universitas Brawijaya," kata dia.

Dia mengharapkan langkah itu memperluas akses pelayanan kesehatan yang sepenuhnya mengandalkan peralatan dan teknologi bagi setiap warga negara Indonesia di Jawa Timur.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif berharap, Pusat Penyakit Infeksi ini bisa menjadi rujukan masyarakat maupun rumah sakit di wilayah Malang Raya.

"Infeksi kan macam-macam. Infeksi sudah nomor tiga besar kasus, yaitu kanker, metabolik, dan infeksi. Ini sebagai pusatnya dan akan berkembang sebagai riset, dimana nanti berkembang menjadi untuk vaksin," katanya.

Pewarta: Ananto Pradana

Editor : Vicki Febrianto


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026