Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Medan sirkuit di Universitas Jember (Unej) menjadi tantangan sulit bagi sejumlah peserta Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 saat hari pertama bertanding di kampus setempat pada Sabtu.

"Meskipun berstatus tuan rumah, tantangan terbesar datang dari karakter sirkuit sendiri," kata Manajer Tim TITEN (Mobil Listrik) dari Unej, Ahmad Ramadani di kampus setempat.

Rangkaian KMHE diwarnai ketegangan tinggi, di mana kerja keras riset yang dilakukan tim selama berbulan-bulan diuji habis-habisan di Sirkuit Tegalboto Unej. Total jarak tempuh yang disyaratkan mencapai 9,7 kilometer yang ditempuh dalam beberapa putaran menjadi penentu tunggal dari dedikasi dan kualitas desain tim peserta.

"Persiapan kami telah memakan waktu 9 bulanan sejak awal tahun dan secara regulasi tikungan enggak boleh 90 derajat, tetapi tikungan Unej itu semuanya hampir 90 derajat. Jadi tim sangat kesulitan," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kendala itu memaksa timnya untuk melakukan riset lebih mendalam hingga malam hari di tengah lampu penerangan yang minim.

"Kami tidak bisa latihan di pagi hari karena kondisi kendaraan yang masih lalu lalang. Nah saat malam hari itu mobil kami sudah hampir dua kali naik trotoar," katanya.

Namun, persiapan matang membuahkan hasil dan tes Technical Inspection satu kali jalan itu sudah langsung siap race, sehingga momen itu yang paling berkesan.

Di tengah semua tantangan ini, semangat kompetisi Tim Unej tetap menyala dan menyebut tim dari Semar UGM sebagai lawan terbesar.

"Namun, dengan support besar dari fakultas dan status tuan rumah, saya optimis bisa menang pasti 100 persen," ujarnya.

Tantangan sirkuit Unej juga dirasakan oleh Tim Apatte 62 dari Universitas Brawijaya (UB). Tim UB yang mobilnya sempat mengalami crash di lintasan menyoroti titik kritis yang dihadapi driver wanita mereka, Puja Lutfiana.

"Sirkuit ini challenging karena medannya beda. Ada tikungan siku-siku yang radius beloknya 90 derajat yang sempat menyulitkan driver kami,” kata Tim dari UB, Dina Dewi di Unej.

Menurutnya tikungan pertama dan tikungan selanjutnya menjadi titik paling sulit karena naik-turun dan berbentuk siku-siku, sehingga Tim UB yang meriset mobil sejak Februari 2025 terpaksa melakukan evaluasi mendadak.

"Setelah insiden, evaluasinya dari mekanik sama driver-nya lebih membicarakan soal akselerasi sama turn point-nya biar mereka enggak crash," katanya.

Meskipun kesulitan di lintasan, Tim UB memuji dukungan tuan rumah karena persiapan Unej cukup bagus terkait kesiapan paddock dan logistik yang mempermudah adaptasi peserta, meskipun sempat terkandala saat turun hujan saat jelang pembukaan pada Jumat (25/10) sore.

Sejumlah tim harus membenahi mobil di bawah tekanan waktu, berhadapan dengan tikungan 90 derajat, dan ambisi untuk menang adalah bukti nyata bahwa KMHE di Jember adalah validasi terbaik bagi masa depan teknologi energi Indonesia.

Kompetisi itu akan mencapai puncaknya pada Minggu (26/10) yang menentukan siapa yang layak meraih gelar juara Prototipe dan Urban Concept pada 2025.

 

 



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Astrid Faidlatul Habibah

COPYRIGHT © ANTARA 2026