Surabaya - Seorang pria paroh baya terlihat sibuk membungkusi nasi setengah matang ke dalam daun pisang. Sambil duduk, secara satu per satu bungkusan itu ditata rapi di tempat yang sudah disiapkan. Namanya Pele, seorang warga di kawasan Banyu Urip Lor, Surabaya. Tidak hanya belasan dan puluhan ia membungkusi, namun jumlahnya mencapai ratusan. Tapi dengan penuh kesabaran, Pele berhasil menyelesaikannya. "Pekerjaan seperti ini setiap hari saya lakukan. Sebelum membungkusi, saya juga membuat lontong mulai awal hingga menjadi sebuah lontong yang siap dimakan," ujarnya ketika ditemui. Tidak hanya Pele saja yang beraktivitas membuat lontong, ternyata hampir seratusan warga lainnya juga melakukan hal serupa. Hingga akhirnya, di kawasan tersebut dikenal dengan sebutan "Kampung Lontong". Tidak mudah menemukan kampung tersebut. Namun, jika sudah berada di kawasan Banyu Urip dan Petemon Barat maka hanya dengan bertanya kepada warga setempat, semua pasti mengenalnya. Tidak ada satu pun warga yang tidak mengenal nama Kampung Lontong. Ya, sebuah kampung yang lebar jalannya tidak lebih dari dua meter. Malah, lebih lebar jauh ukuran sungai yang berada persis di sisi jalan. Hal inilah yang membuat warga di kampung sekitar terasa lebih aman, nyaman dan guyub. Meski mayoritas warga sama-sama membuat lontong, namun tidak ada kecemburuan sosial dan persaingan tidak sehat yang mengarah pada konflik antarwarga. "Syukurlah sampai sekarang tidak ada kecemburuan antarpembuat lontong. Kami tidak bersaing, tapi justru bersama-sama mengembangkan bisnis lontong. Hasilnya, nanti warga juga yang merasakan dan kami sangat menikmatinya," tutur Pele. Kampung itu terletak di wilayah Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Surabaya. Disebut kampung lontong, karena ada sekitar 3 RT yang mayoritas penduduknya pembuat lontong. Jumlah Kebutuhan beras rata-rata per kepala keluarga setiap harinya mencapai 80-100 kilogram. Hasilnya bisa mencapai antara 1.440-1.800 buah lontong per hari. Sedangkan untuk konsumsi elpiji, sekitar 3-5 tabung elpiji per kepala keluarga. Pemasarannya, lontong-lontong ini didistribusikan ke pasar tradisional di Surabaya dan sekitarnya. Untuk penjualan dan pemasaran nisbi tidak ada masalah, bahkan sangat terbuka lebar. "Apalagi semua tahu, kalau lontong tidak akan habis masanya dari tahun ke tahun. Tingkat konsumsi masyarakat juga sangat tinggi, ditambah lagi dengan banyaknya makanan yang menggunakan lontong sebagai pengganti nasi," terang Pele. Sejarah Sebelumnya, di wilayah tersebut merupakan kampung sentra pembuatan tempe. Kemudian, secara berangsur-angsur berpindah menjadi sentra lontong karena pembuatannya yang lebih mudah. Keuntungan juga nisbi tidak jauh berbeda dengan tempe. Selain itu, tidak memerlukan tempat khusus untuk proses pembuatannya. Apalagi sebagian besar penduduknya adalah warga kontrakan. "Usaha tempe saya dulu sangat ramai dan menjanjikan. Tapi seiring dengan beberapa kesulitan bahan dan warga yang tidak sedikit beralih pembuatan, usaha tempe pun tergerus. Sekarang warga beralih membuat lontong," ucap Bu Imah, salah seorang warga. Setelah usaha tempe di kawasan tersebut lumpuh, ia pun memutuskan tidak melanjutkan usaha tempenya. Bu Imah pun tidak membuat produksi tempe layaknya warga lainnya, dan memilih membuka toko peracangan sebagai tambahan perekonomian keluarga. Kembali ke pembuatan lontong, dalam perjalanannya, harga beras yang merupakan bahan mentah dan utama lontong seringkali dipermainkan oleh pedagang beras setempat. Saat ramai pesanan lontong, harga pasti dinaikkan. Di samping itu, beras untuk lontong yakni beras mekar, terkadang tidak tersedia di pasaran. Sehingga terpaksa menggunakan beras apa adanya. Salah satu konsekuensinya, keuntungan tidak begitu bagus dan memuaskan. Jika per kilogram beras mekar mampu menjadi 16-18 buah lontong, namun beras umum hanya mencapai 12-13 buah lontong saja. Selain itu, harganya nisbi lebih mahal dibandingkan beras mekar. Pemberdayaan Atas dasar berbagai persoalan tersebut, di sana terbentuk sebuah posko atau paguyuban untuk pemberdayaan warga setempat. Namanya Posko 100, sebuah posko pemberdayaan UMKM oleh salah satu partai politik. Pada 2006, posko itu dibangung memfasilitasi dibentuknya paguyuban pembuat lontong di wilayah tersebut. Selanjutnya, oleh warga diberi nama "Paguyuban Pengusaha Lontong Mandiri". Beberapa program paguyuban ini mampu membuat masyarakat setempat, khususnya pembuat lontong merasa terbantu. Dari hanya 18 anggota, sampai saat ini sudah sekitar 100 orang yang tergabung, dengan sebagian besar penduduk tetap. "Dari paguyuban itu mampu menghimpun pembelian beras anggora maupun non-anggota secara kolektif, dengan jumlah pembelian beras mencapai 10-15 ton per minggu," papar Pele. Paguyuban tersebut mendapat perhatian dan difasilitasi langsung oleh Bambang DH, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Saat itu, Wali Kota mempertemukan warga dengan Bulog Jatim dengan harapan mampu bekerja sama. Hasilnya, Bulog Jatim mampu mengalokasikan 5 ton beras mekar per bulan. "Untuk kekurangan beras, biasanya mengambil di pusat penggilingan beras di Jombang atau Lamongan. Kadang juga di pasar-pasar setempat jika masih tersedia," tukasnya. Tidak hanya itu saja, beberapa program pendampingan oleh Posko 100 di antaranya, program sosialisasi pemakaian briket batu bara pada awal konversi minyak tanah ke gas pada 2008. "Tentu saja saat itu konversi berdampak ketakutan dalam pemakaian gas dan kelangkaan ketersediaan elpiji di pasaran," kata dia. Posko ini juga memfasilitasi paguyuban ke PT. Pertamina untuk mendapatkan kuota elpiji khusus untuk Kampung Lontong. Kemudian, mengupayakan bantuan kompor dan elpiji dari Wali Kota dulu, Bambang DH. "Posko juga mengusulkan jaringan pipa gas ke Kampung Lontong. Jaringan pipa induk sudah terealisasi, dan menunggu sambungan ke rumah," tuturnya. Bahkan, warga Kampung Lontong berhasil mendapatkan bantuan komputer dan sambungan internet gratis dari salah satu operator telekomukasi GSM untuk paguyuban. Sedangkan, harapan yang belum terealisasi yakni program pemanfaatan limbah potongan daun pisang yang mencapai lebih dari satu truk setiap hari. Kemudian, adanya varietes beras khusus yang cocok untuk lontong dan tersedia secara berkelanjutan dengan harga nisbi murah dan stabil, serta sambungan rumah gas bisa segera terealisasi. (*)


Editor : Chandra Hamdani Noer

COPYRIGHT © ANTARA 2026