Ankara - Sembilan orang, termasuk empat anak kecil, tewas akibat ledakan bom mobil yang dikendalikan dari jauh di Turki tenggara, kata beberapa pejabat Turki pada Selasa (21/8), sementara Partai Pekerja Kurdistan (PKK) --yang dilarang-- membantah bertanggung jawab.
Sebanyak 68 orang cedera dalam ledakan tersebut di dekat kantor polisi di Provinsi Gaziantep, Turki tenggara, Senin malam. Empat di antara mereka berada dalam kondisi kritis, kata Wakil Perdana Menteri Turki Besir Atalay kepada wartawan, Selasa.
Sebagian besar orang lagi menderita luka ringan akibat terkena pecahan kaca, kata Atalay, yang menambahkan ledakan Senin itu membuat beberapa mobil terbakar.
"Kendaraan yang digunakan dalam serangan tersebut adalah curian. Kendaraan itu dibawa ke tempat ledakan dengan menggunakan truk derek, dan banyak peledak ditaruh di dalamnya," kata Atalay, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Rabu pagi.
"Kami membuat kemajuan dalam mencari mereka yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut," katanya.
Ledakan itu terjadi di tengah meningkatnya bentrokan antara pasukan keamanan Turki dan anggota PKK. Dalam dua bulan belakangan, PKK telah meningkatkan serangannya, termasuk menculik seorang anggota parlemen, melancarkan serangan di beberapa bagian barat negeri tersebut dan menjadikan warga sipil sebagai sasaran di berbagai kota kecil.
Namun PKK membantah organisasi itu melancarkan pemboman tersebut, dalam satu pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita pro-Kurdi, Firat News.
"Pasukan kami tak memiliki kaitan apa pun dengan serangan ini. Kami tak menyerang warga sipil," kata PKK di dalam pernyataan itu.
Serangan mematikan tersebut tampaknya akan menambah parah hubungan yang sudah tegang antara Turki dan tetangganya, Suriah, saat para pejabat Turki menyatakan "adanya kerja sama" antara PKK dan rejim Suriah dalam kejadian itu. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.