Washington - Pasukan AS dapat bertindak terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad, demikian peringatan Presiden AS Barack Obama, terutama jika ia mengerahkan senjata kimia terhadap gerilyawan yang berusaha menggulingkan dia. Dalam komentar paling kerasnya mengenai Suriah, pada hari pengamat PBB keluar setelah upaya tanpa hasil bagi perdamaian dan pasukan Bashar melancarkan serangan baru, pemimpin AS tersebut mengatakan Bashar menghadapi "konsekuensi sangat besar" kalau ia melintasi "garis merah" mengenai pengerahan senjata non-konvensional sekalipun dengan cara yang mengancam nyawa. Obama, yang berusaha terpilih kembali pada November, menyatakan ia "telah menahan diri pada saat ini" dari memerintahkan keterlibatan militer AS di Suriah, demikian laporan Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa siang. Namun ketika ditanya dalam taklimat di Gedung Putih apakah ia mungkin menggelar pasukan, misalnya untuk mengamankan senjata biologi dan kimis Suriah, ia mengatakan pendapatnya bisa berubah. "Kami telah sangat jelas kepada rejim (Bashar) al-Assad, tapi juga kepada pemain lain di lapangan, garis merah buat kami ialah kami mulai melihat seluruh tumpukan senjata kimi atau dimanfaatkan," kata Obama. "Itu akan mengubah perhitungan saya." Washington dan sekutu Baratnya, yang menghadapi konflik bahan peledak yang rumit di Timur Tengah dan dukungan kuat bagi Bashar dari Iran serta Rusia dan China di PBB, telah memperlihatkan sedikit nafsu untuk memberi bantuan lebih jauh bagi gerilyawan, berbeda dengan serangan mereka terhadap pemimpin LIbya Muamar Gaddafi. Namun komentar Obama meningkatkan prospek mengenai perubahan, dalam kondisi tertentu. Suriah pada Juli mengakui untuk pertama kali bahwa negara itu dapat menggunakan senjata kimia kalau negara asing ikut campur. Ancaman tersebut mengundang peringatan kuat dari Washington dan sekutunya, kendati tidak jelas bagaimana Angkatan Bersenjata Suriah mungkin menggunakan senjata semacam itu dalam perang kota. "Kami tak bisa membiarkan kondisi senjata biologi dan kimia berada di tangan orang yang salah," kata Obama dalam "taklimat tanpa jadwal" pada Senin (20/8). Ia mengakui ia tak "sepenuhnya yakin" simpanan senjata tersebut aman. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026