Madiun - Serapan atau penggunaan dana reguler untuk pemeliharaan rutin jalan provinsi dari APBD Provinsi Jatim di wilayah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bina Marga Madiun, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga, Provinsi Jatim, tahun 2012 telah mencapai 50,95 persen. "Tahun ini dana reguler untuk pemeliharaan rutin jalan dari APBD Provinsi Jawa Timur dialokasikan sebesar Rp26,583 miliar. Dari dana tersebut, telah terserap sebanyak 50,95 persen atau sekitar Rp13 miliar lebih hingga akhir Juni lalu," ujar Kepala UPT Bina Marga Madiun, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jatim, Bambang Effianto, Senin. Menurut dia, dana tersebut digunakan untuk perbaikan fisik seperti pelebaran jalan, penutupan lubang, pengaspalan ulang, perbaikan jembatan, dan pembuatan marka jalan. "Dana perbaikan dan pemeliharaan rutin ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya mencapai Rp6 miliar lebih," kata dia. Bambang menjelaskan, salah satu jalan provinsi yang saat ini sedang dikebut perbaikannya adalah, jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Ponorogo dengan Trenggalek, guna persiapan arus mudik dan balik Lebaran tahun 2012. Namun, karena dana yang terbatas, perbaikan jalan di perbatasan Ponorogo dan Trenggalek tersebut hanya dilakukan dengan cara tambal sulam saja. "Jalur Ponorogo sampai batas Trenggalek memang jadi perhatian kami. Sebagian jalan sudah ada yang ditingkatkan dan sisanya masih penambalan. Jalan setempat termasuk jalan provinsi mulai dari perempatan Dengok, Desa Winong, Kecamatan Jetis, Ponorogo, hingga perbatasan Trenggalek," kata Bambang. Panjang jalannya mencapai 28 kilometer dan sebagian besar rusak parah. Dari 28 kilometer, baru sekitar 1,3 kilometer yang diperbaiki total dengan pelapisan aspal jalan secara total atau "over lay". Selain dilapisi total, lebar jalan setempat juga ditambah, dari semula enam meter menjadi tujuh meter. Proyek peningkatan kualitas jalan sepanjang 1,3 kilometer itu menghabiskan dana APBD Provinsi Jawa Timur sekitar Rp5 miliar. Kepala Seksi Jalan, UPT Bina Marga Madiun, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Marijatoel Itijah, menambahkan, selain tanahnya labil, jalan di jalur setempat sudah habis masa penggunaanya, sehingga harus dilapisi total. "Umur rencana jalan setempat sudah terlampaui jauh. Yakni sudah lebih dari 20 tahun jalan setempat tidak diaspal ulang. Padahal untuk jalan dengan aspal jenis "hotmix", umur rencana penggunaan jalan hanya 8 tahun," kata Marijatoel Itijah. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026