Sidoarjo - Ratusan orang yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kabupaten Mojokerto demo meminta Pabrik Gula Gempolkrep kembali buka giling setelah lima hari berhenti beroperasi karena pencemaran limbah. Salah seorang anggota APTR, Mardianto, Rabu, mengatakan, akibat penutupan pabrik sejumlah petani tebu merugi jutaan rupiah akibat tidak tergilingnya tebu mereka setelah dipanen. "Kami mendesak kepada PG Gempolkrep supaya segera membuka giling kembali mengingat saat ini sudah banyak petani tebu yang sudah mulai panen," katanya. Ia mengemukakan, seharusnya PG Gempolkrep segera memperbaiki sistem pembuangan limbahnya supaya bisa beroperasi lagi karena kalau terus dilakukan penutupan yang dirugikan adalah petani sendiri. "Kami sangat dirugikan dengan adanya penutupan PG Gempolkrep ini mengingat selama ini kami masih menggantungkan pabrik ini untuk mengirim hasil panen tebu kami," katanya. Sementara itu, Administratur PG Gempolkrep, Yadi Yusriadi mengatakan, pihak pabrik akan mendatangi Gubenur Jawa Timur supaya diijinkan kembali beroperasi. "Kami akan berangkat menghadap Gubernur Jawa Timur untuk memberikan kelonggaran buka giling kembali mengingat kondisi di lapangan yang ada," katanya. Dalam aksinya tersebut ratusan anggota APTR memarkir truk yang ditumpanginya berjajar dan menutup jalan yang ada di depan Pabrik Gulan Gempolkrep. Akibat aksi tersebut, sejumlah kendaraan yang ingin melintas di kawasan tersebut terpaksa dialihkan ke jalan yang lain. Wilayah kerja PG Gempolkrep saat ini sebanyak 29 wilayah yang meliputi Kabupaten/Kota Mojokerto, Jombang dan Lamongan dengan 36 ribu petani tebu. Sementara kapasitas produksi tebu petani mencapai 11 juta kuintal per musim. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026