Surabaya - Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengimbau semua elemen suporter, khususnya di Surabaya, menerima keputusan polisi yang melarang ada pertandingan sampai batas waktu yang belum ditentukan. "Semua harus menerima keputusan itu. Mau bagaimana lagi, polisi sudah memberikan keputusan dan semua harus mematuhinya," ujarnya kepada wartawan di Gedung Grahadi Surabaya, Selasa. Pejabat yang akrab disapa Gus Ipul tersebut juga meminta semua pihak untuk mengevaluasi dan merenung atas peristiwa yang terjadi. Dia tidak ingin kejadian serupa timbul lagi dan merembet ke daerah lain. Seperti diketahui, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Tri Maryanto memutuskan untuk mencabut izin pertandingan Persebaya bermain di Surabaya dalam kompetisi apa pun. Tidak itu saja, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga menyatakan tidak boleh ada pertandingan apa pun di Stadion Gelora 10 Nopember. Selain untuk mengantisipasi sesuatu terjadi lagi, stadion yang termasuk bangunan bersejarah tersebut akan direnovasi. Gus Ipul mengatakan bahwa Jawa Timur merupakan basis sepak bola nasional dan memiliki pendukung yang sangat luar biasa. Selain dikenal kreatif dan fanatik, pendukung tim di Jatim sangat banyak. Oleh karena itu, pihaknya menginginkan semua pendukung tim-tim di Jatim memberikan dukungan secara rasional dan tidak bertindak di luar kontrol, salah satunya dengan bentrok dan merusak. "Kami sudah sering berkomunikasi dengan elemen suporter di Jatim. Akan tetapi, yang namanya suporter kan banyak dan tidak samua diwadahi dalam sebuah elemen sehingga kami hanya bisa memberikan penyadaran ke masyarakat," papar mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal tersebut. Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo mengaku prihatin dengan insiden yang terjadi usai pertandingan Persebaya melawan Persija Jakarta dalam lanjutan kompetisi Liga Primer Indonesia di Stadion Gelora 10 Nopember, Minggu (3/6). Suasana panas mulai terasa saat bubaran pertandingan. Penonton dari tribun ekonomi sisi selatan terlibat adu mulut dengan aparat. Hujan botol plastik air mineral terjadi. Polisi bersikap dan melepas tembakan gas air mata ke arah tribun. Dalam kejadian tersebut muncul seorang korban jiwa. Seorang suporter Persebaya, Purwo Adi Utomo, yang juga siswa kelas III SMK Negeri 5 Surabaya meninggal dunia karena kehabisan oksigen setelah diduga terinjak-injak di tribun karena menyelematkan diri dari tembakan gas air mata yang dilontarkan aparat kepolisian.


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026