Surabaya - Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim), Saifullah Yusuf, menilai perusahaan otobus (PO) perlu melakukan psikotes kepada setiap sopir karena pengemudi memegang tanggung jawab penuh terhadap keselamatan penumpang.
"Kami minta tidak hanya sopir melainkan kondekturnya juga diseleksi ketat termasuk dilakukan psikotes. Apalagi, di Indonesia belum ada PO yang menyeleksi sopir dan kondektur dengan psikotes sehingga Jatim perlu memeloporinya," katanya ditemui dalam rapat koordinasi dengan pengusaha angkutan bertema "Upaya Peningkatan Pelayanan dan Ketentuan Angkutan Umum di Jatim" , di Surabaya, Selasa.
Menurut dia, psikotes perlu karena 90 persen kecelakaan lalu-lintas selama ini dipicu ulah sopir yang mengemudi secara "ugal-ugalan" di berbagai ruas jalan, termasuk di Jatim.
"Tindakan sopir itu bisa juga dipengaruhi oleh faktor keluarga seperti si sopir memiliki istri lebih dari satu orang dan besarnya tuntutan manajemen perusahaan terhadap setoran yang ditargetkan," ujarnya.
Secara umum, kata dia, banyak faktor yang membuat sopir berulah seperti itu sampai menghilangkan nyawa orang, misalnya lama jam kerja yang melebihi batas.
"Akan tetapi, terkait permasalahan gaji sopir kami optimistis ketika sistem penggajian terstruktur dengan baik misalnya sistem komisi tiap sopir bisa dikaji ulang maka masalah keteledoran sopir tidak akan terjadi," katanya.
Ke depan, kata dia, mereka juga wajib memiliki asuransi kesehatan dan mempunyai seragam khusus. Selain itu, pengusaha PO perlu rutin memeriksa kondisi fisik bus ke bengkel sebelum dioperasiokan agar kelaikannya terjamin.
"Pengusaha PO juga perlu memastikan sopir yang direkrut mempunyai SIM dan langkah terakhir bisa dengan memberikan pembinaan mental spiritual kepada sopir," katanya.
Menyinggung banyaknya infrastruktur jalan di Jatim yang rusak, ia mengatakan, kondisi tersebut memang tidak bisa dipungkiri ikut memberi andil terjadinya kecelakaan lalu-lintas.
Namun demikian, Pemprov Jatim terus berupaya segera memperbaikinya. Tapi, kini juga masih ada masalah baru, ketika jalan sudah diperbaiki seperti antara Kediri-Kertosono, justru angka kecelakaannya meningkat.
"Terkait angka korban kecelakaan lalu-lintas, dari 1.500 orang meninggal secara nasional sekitar 15 persen di antaranya di Jatim selama Januari-Februari tahun 2012," katanya.
Menyikapi permasalahan infrastruktur di Jatim, p erwakilan PO Menggala, Firman, membenarkan, sampai sekarang ruas jalan di provinsi ini banyak yang mengganggu operasional bus hingga mengakibatkan kecelakaan lalu-lintas.
"Salah satunya, ruas jalan di Porong yang kerusakannya sangat parah. Kami harap, arteri Porong segera dioperasikan sehingga laju kendaraan kian lancar dan ekonomi Jatim semakin meningkat," katanya.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.