Depok - Bank Indonesia dan Kodam Jaya Jakarta, sepakat untuk terus melanjutkan kerjasama dalam merenovasi bangunan sekolah di wilayah Jakarta dan sekitarnya sebagai wujud komitmen memajukan dunia pendidikan. Kelanjutan kerjasama itu disampaikan Pangdam Jaya Mayjen Waris dan Direktur Perencanaan Strategis dan Humas Bank Indonesia Dyah NK Makhijani dalam peresmian selesainya renovasi 27 bangunan SD dan PAUD di SD Sukmajaya 5 Depok, Rabu. Program tanggungjawab sosial BI "Bedah Sekolah" yang dimulai pada akhir tahun lalu menghabiskan dana Rp2,7 miliar, yang pembangunannya dikerjakan oleh prajurit TNI di Kodam Jaya. Dalam sambutannya Dyah mengatakan pembangunan di bidang pendidikan selain dikerjakan negara juga harus dibantu oleh unsur masyarakat lain, mengingat pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa. "BI selama ini sudah memberikan bantuan beasiswa kepada masyarakat, tetapi itu saja tidak cukup karena harus didukung pembangunan sarana dan prasarana yang memadai. Kami bersyukur Kodam Jaya memiliki kepedulian yang sama untuk membangun dunia pendidikan," kata Dyah. Mayjen Waris pada kesempatan itu mengatakan bahwa TNI selain bertugas menjaga keamanan negara juga wajib mendukung upaya pembangunan negara antara lain di bidang pendidikan. "Pendidikan sangat penting untuk memajukan negara, rakyat harus semakin pandai dan maju. Saya harap selain BI akan banyak lagi institusi yang peduli pada dunia pendidikan," katanya. Menurut Waris, akan ada 16 lagi sekolah yang akan dibangun bekerjasama dengan BI, sementara bank lain seperti BRI dan Mandiri sudah siap untuk mengikuti program ini. Wakil Mendiknas Musliar Kasim yang hadir dalam acara itu, menyatakan apresiasi terhadap program yang dilakukan Kodam Jaya dan BI. "Mudah-mudahan akan menjadi contoh bagi bank-bank dan pihak-pihak lain sehingga dunia pendidikan semakin maju, sebab suatu negara tidak akan menjadi maju jika pendidikannya tidak maju," katanya. Musliar mengatakan kualitas pendidikan penduduk Indonesia masih tertinggal oleh negara-negara sekitar termasuk Cina yang sudah memiliki doktor sebanyak 400 ribu orang, sementara di Indonesia jumlah doktor hanya 16 ribu orang. Dijelaskannya, dana APBN untuk dunia pendidikan tidak akan cukup untuk memperbaiki dan membangun gedung-gedung sekolah di seluruh Indonesia, karena dana juga harus dialokasikan untuk perbaikan mutu pendidikan. "Saya harapkan partisipasi masyarakat untuk membantu dunia pendidikan semakin besar sehingga generasi mendatang semakin baik kualitasnya," katanya.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026