Surabaya - Konsul Jenderal AS di Surabaya Kristen F Bauer menegaskan bahwa kaum muda sering menjadi target dari radikalisasi, karena itu diskusi radikalisasi yang melibatkan kaum muda itu penting. "Saya pernah mendengar cerita seorang ibu yang kaget dengan putranya yang memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat dunia, lalu ibu itu merasa kehilangan dan akhirnya mengajak bicara anaknya," katanya di Surabaya, Selasa. Ia mengemukakan hal itu saat membuka "Dialogue on Countering Radicalization Among Youths" yang digelar IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerja sama dengan Konjen AS di Surabaya. "Cerita itu mendorong kita untuk mendukung upaya seperti dilakukan ibu itu, karena itu konsulat AS selalu mendukung setiap upaya menolak radikalisasi, baik upaya yang dilakukan polisi maupun upaya dari kalangan universitas," katanya. Dari kalangan universitas, pihaknya ingin mendengar pendapat intelektual muda dan mahasiswa untuk menolak kejahatan ekstrimisme atau radikalisasi, apalagi kaum muda sering menjadi target dari radikalisasi itu. "Ide-ide anak-anak muda itu penting untuk masa depan mereka sendiri agar terhindari dari menjadi target rekrutmen kelompok radikal," katanya, didampingi Pembantu Rektor (PR) III ITS Prof Dr H Saiful Anam MAg. Menurut dia, radikalisasi itu bukan disebabkan agama dan kemiskinan, karena orang beragama dan orang miskin itu bukan penjahat, namun kaum muda itulah yang justru sering menjadi target. "Ekstrimisme itu mulai muncul tahun 1990-an dan tahun 2012 membuat kita paham bahwa situasi semakin rumit dengan adanya ledakan bom di Bali, Jakarta, Madrid, London, dan New York," katanya. Oleh karena itu, pihaknya memastikan perlunya kaum muda memiliki kemampuan untuk menyikapi radikalisasi secara kritis. "Yang jelas, radikalisasi bukan sekadar pembunuhan, tapi memisahkan keluarga dan memperburuk perekonomian," katanya. Senada dengan itu PR III IAIN Surabaya Prof DR Syaiful Anam MAg menyatakan agama memang tidak mengajarkan kekerasan, karena Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama di dunia secara damai. Bahkan, negara yang dipimpin Nabi Muhammad SAW adalah negara Madinah dengan Piagam Madinah yang merangkul semua agama, baik Islam, Yahudi, Nasrani, maupun keyakinan lokal (Shobiin). "Kalau pun ada pengusiran Yahudi, maka hal itu lebih disebabkan faktor politik. Yang jelas, Nabi Muhammad SAW sendiri bila mengetahui ada orang Yahudi yang melanggar perjanjian, maka beliau masih bertanya kepada pemuka Yahudi tentang sanksi untuk orang Yahudi yang melanggar perjanjian," katanya. Hal itu diperkuat dengan sejarah Islam di Indonesia. "Para walisongo menyebarkan agama secara damai lewat budaya, bukan kekerasan. Karena itu, kami akan menggelar seminar tentang peran walisongo dalam penyebaran Islam di Nusantara," katanya. Dialog yang juga dilanjutkan dengan diskusi kelompok itu menampilkan pembicara antara lain Romo Benny Susetyo (Katholik), Prof Syafiq A Mughni (Muhammadiyah), Prof Dr Abdul A'la (IAIN Surabaya), Ken Setiawan (pendiri NII Crisis Center), dan sebagainya. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026