Surabaya - Sebanyak 1.270 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terjadi selama tahun 2011 di 33 kabupaten/kota se-Jatim. "Jika dibandingkan 2010, maka terjadi kenaikan angka sekitar 11 persen. Ini sesuai dengan data dan laporan yang kami terima," ujar Kepala Bidang Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Jatim, Hargandono, kepada wartawan di Surabaya, Kamis. Ia menjelaskan, ada lima daerah yang belum memberikan laporan ke BPPKB Jatim, yakni Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pamekasan, Kota Surabaya dan Kota Probolinggo. Dari data yang ada, Kabupaten Nganjuk merupakan daerah dengan kasus KDRT terbanyak dengan 207 kasus baru. Diikuti dengan Kabupaten Jember dengan 76 kasus. Selanjutnya, Kota Malang dengan 72 kasus, Kabupaten Magetan dan Kabupaten Tulungagung dengan 65 kasus, Kabupaten Blitar dengan 64 kasus dan 59 kasus Kabupaten Jombang. "Tahun lalu mulai mulai banyak yang melapor. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana korban KDRT masih banyak tidak melapor dengan alasan takut," papar dia. Hargandono mengungkapkan, sekitar 60 persen kasus KDRT dialami oleh perempuan, 30 persen anak-anak dan sisanya dialami kaum laki-laki. "Meski perempuan dan anak lebih banyak menjadi korban, tapi laki-laki juga ada yang mengalami kekerasan. Tapi jumlahnya hanya sekitar 10 persen," tuturnya. Sementara itu, Pusat Pelayanan Terpadu RS Bhayangkara Samsoeri Mertojoso Polda Jatim menemukan sejumlah kasus kekerasan seksual dan eksploitasi pada anak-anak sepanjang 2011 dengan modus sms nomor acak serta situs jejaring sosial. "Setelah kenal melalui sms atau 'facebook', korban ditawari pekerjaan dengan gaji besar. Kalau sudah dicoba sekali, maka anak akan terbiasa dan nekat berbohong ke orang tua," kata Humas Pusat Pelayanan Terpadu Jawa Timur, Riza Wahyuni. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026