Jakarta - Menjelang penutupan perdagangan akhir tahun 2011, Jumat pagi nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan sebesar 65 poin terhadap dolar AS. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Jumat pagi melemah 65 poin menjadi Rp9.130 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.065 per dolar AS. "Jelang penutupan tahun 2011, tidak banyak analis yang antisipasi penguatan rupiah seiring belum adanya solusi untuk atasi krisis utang," kata analis pasar uang Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat. Ia mengatakan, ada kekhawatiran di kuartal pertama 2012 krisis utang akan memburuk akibat besarnya volume utang yang harus dibayar oleh beberapa pemerintah di negara-negara kawasan euro. "Permintaan dollar kemungkinan berlanjut hingga awal tahun depan," kata dia. Ia menambahkan, kekhawatiran akan kemampuan pendanaan Italia akan menggerogoti sentimen pasar. Italia harus membayar biaya pinjaman hampir tujuh persen ketika menjual obligasi bertenor 10 tahun. Selain itu, lanjut dia, Italia juga hanya berhasil kumpulkan dana sebanyak 7,02 miliar euro, lebih rendah dari target 8,5 miliar euro. "Ini tentunya bukan kabar gembira mengingat Italia harus terbitkan obligasi senilai 450 miliar euro pada 2012 di saat perekonomian terbesar ketiga di zona-euro ini alami perlambatan," katanya. Analis pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan respon negatif investor terhadap kesulitan pendanaan di antara perbankan Eropa. "Sentimen negatif masih kuat dari eropa, penanganan krisis eropa belum ada arah yang positif," kata dia. Ia menambahkan, volume perdagangan di pasar spot juga terbilang minim sehigga memudahkan spekulan memainkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. "Tipisnya volume perdagangan menjelang penutupan tahun membuat pergerakan mudah berubah (volatile)," kata dia. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026