Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS, Kamis siang merosot tajam, karena pelaku pasar makin khawatir dengan krisis utang di Eropa, setelah bank sentral Eropa (ECB) gagal meyakinkan pasar. Nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta turun 90 poin menjadi Rp9.150 dari sebelumnya Rp9.060 per dolar. Analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan di Jakarta, Kamis, mengatakan, rupiah sudah diduga akan sulit untuk bisa menguat, karena isu negatif dari eksternal makin kuat. Apabila isu negatif berlanjut maka rupiah diperkirakan akan terus mengalami tekanan yang mendorongnya untuk mendekati level Rp9.200 per dolar, ucapnya. Tekanan negatif pasar yang makin kuat, menurut dia akan memaksa Bank Indonesia (BI) untuk masuk pasar melakukan intervensi agar tekanan itu bisa berkurang. Dengan masuknya pasar rupiah akan kembali membaik dalam kisaran antara Rp9.050 hingga Rp9.100 per dolar, katanya. Ia menambahkan, melemahnya rupiah juga tertekan oleh merosot euro dan mata uang utama Asia terhadap dolar AS. Hal ini disebabkan pelaku pasar khususnya asing lebih suka membeli dolar yang dinilai lebih aman ketimbang mata uang lainnya, ujarnya. Ia mengatakan, ECB menurut rencana akan mengalokasikan dana 489,2 miliar euro untuk perbankan Eropa agar bank-bank itu dapat mengurangi risiko dampak buruk krisis utang di kawasan tersebut. Namun sejumlah analis menilai langkah ECB itu hanyalah satu dari sejumlah langkah yang diperlukan untuk membantu menanggulangi krisis utang kawasan Euro, ucapnya. Menurut dia, rupiah masih berpeluang untuk terus merosotnya lebih jauh karena aksi lepas makin kuat. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026