Bogota (ANTARA/Reuters/AFP) - Pemberontak FARC Kolombia telah membunuh empat sandera militer yang sudah mereka tawan selama bertahun-tahun, kata Kementerian Pertahanan Kolombia, Sabtu.
Itu adalah aksi paling keras oleh kelompok pemberontak yang dibiayai dengan uang hasil obat bius itu sejak pasukan bersenjata menewaskan pemimpin dan ideolog penting mereka, Alfonso Cano, dalam serangan pada awal bulan ini.
"Mereka telah dibunuh secara kejam," kata Menteri Pertahanan Juan Carlos Pinzon pada konferensi pers.
Ia mengatakan pembunuhan itu terjadi di daerah hutan Cacueta di Kolombia selatan setelah tembak-menembak di tempat itu antara pemberontak tersebut dan anggota-anggota pasukan bersenjata.
Penghasil minyak nomor empat di Amerika Latin itu telah dicabik oleh pertumpahan darah dari pemberontak dan raja-raja kokain selama beberapa dasawarsa. Tapi tindakan keras keamanan pada 2002 telah mengurangi secara drastis kekerasan dan menghasilkan miliaran dolar dalam investasi asing.
Pada Kamis, Presiden Juan Manuel Santos mengatakan negara Andean itu telah mendekati tahap akhir dari 50 tahun perang dan bahwa pemerintahnya ingin duduk dan membicarakan perdamaian jika pemberontak itu serius.
Pemerintah memuji pembunuhan Cano sebagai pukulan yang sangat berat terhadap FAFC. Langkah-langkah besar telah dilakukan di bidang keamanan.
Bagaimanapun sejumlah masalah yang ditutupi belum terpecahkan, dari pendistribusian tanah yang tak sama dan kemiskinan desa hingga geng-geng kejahatan yang tumbuh subur dan politisi rusak akibat uang obat bius.
Dalam pesan pertamanya sejak mengambil alih sebagai pemimpin baru kelompok pemberontak sayap kiri itu, Timoleon Jimenez, memperingatkan Presiden Juan Manuel Santos pada Ahad lalu: "Kita semua harus mati".
Santos mengatakan, Kamis, di Bogota bahwa Jimenez, alias Timochenko, aman mengalami nasib sama dengan Cano, kecuali ia memikirkan tindakannya dengan serius.
FARC yang diperkirakan memiliki 8.000 anggota telah berperang dengan pemerintah sejak 1964. Mereka memulai kampanye penculikan pada pertengahan 1990-an, menangkap sandera militer untuk membantu dalam pertukaran bagi tawanan FARC.
Pada akhir 1990-an, sejumlah warga sipil dan pemimpin politik ditangkap, membuat kelompok itu makin terkenal.
Eksekusi Sabtu meninggalkan 14 polisi dan tentara masih di tangan FARC. Beberapa dari mereka telah menghabiskan lebih dari satu dasawarsa dalam tahanan pemberontak itu. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.