Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Senin siang cenderung stabil karena pelaku pasar mengurangi aksi beli sehubungan kekhawatiran terhadap kondisi pasar Eropa yang masih tak menentu.
Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta, naik tipis satu poin menjadi Rp8.962 per dolar dari sebelumnya Rp8.963.
Direktur Retail Banking PT Bank ANZ Panin Bank, Anthony Soewandy di Jakarta, mengatakan, pelaku pasar mengurangi aksi beli terhadap rupiah karena khawatir laju inflasi 2011 masihkah dibawah target yang ditetapkan pemerintah.
Sebab kekhawatiran terhadap harga minyak mentah dunia yang diperkirakan kembali naik, karena kawasan Timur Tengah mulai memanas yang mendorong harga minyak mentah dunia menguat, katanya.
Apabila hal itu, terjadi, menurut dia, maka dikhawatirkan subsidi pemerintah terhadap minyak mentah membengkak yang akan mendorong laju inflasi 2011.
Selain itu industri pangan kemungkinan juga akan memberikan sumbangan terhadap inflasi 2011, setelah produsen beras utama dunia, Thailand dilanda banjir yang akan mengurangi produksi berasnya, katanya.
Namun faktor utama berkurangnya aksi beli itu, lanjut dia, karena Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi enam persen.
Pelaku pasar khawatir turunnya suku bunga itu akan mengurangi pendapatan mereka di pasar uang tersebut, katanya.
Ia mengatakan, tekanan jual yang mendera rupiah sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda mereda seiring kembali stabilnya situasi politik di Italia dan Yunani.
Namun pelaku pasar masih belum aktif membeli rupiah, karena masih menunggu realisasi dana bantuan ke Yunani dan Italia, katanya.
Stabilnya rupiah, menurut dia, juga karerna membaiknya mata uang utama Asia yang mengimbas ke pasar uang domestik. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.