Jakarta - Pemerintah sulit untuk memenuhi target "lifting" (produksi) minyak sebesar 945 barel per hari pada tahun ini seperti yang dipatok dalam APBN-P 2011.
Pendapat itu disampaikan Kepala BP Migas R Priyono dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR-RI, Senin, terkait dengan revisi Undang-Undang Migas no 4 tahun 2001.
Menurut Priyono, berbagai persoalan baik kendala teknis dan non-teknis, seperti "unplane shutdown" dan kondisi lapangan minyak yang tua masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.
"'Lifting' kita buruk sekali. Peristiwa terbakarnya kapal tanker milik Cenooc (Lentera Bangsa) jelas berpengaruh sekali bagi lifting minyak kita. Karena kebakaran itu, produksi minyak kita turun 16.000 barel per hari," katanya.
Ia juga menjelaskan akibat terbakarnya kapal tanker Lentera Bangsa, produksi minyak saat ini hanya sebesar 900 barel per hari. Oleh karena itu dirinya pesimistis target "lifiting" sebesar 945 barel per hari hingga akhir tahun ini akan tercapai.
Priyono menambahkan perkiraan capaian "lifting" minyak tahun ini baru bisa ditentukan pada November mendatang. "Berapa perkiraan capaian 'lifting' tahun ini nanti akan kita lihat pada November. Kita akan genjot lagi dan berapa rata-rata produksinya. Untuk saat ini belum bisa, sebab Oktober juga belum selesai," jelasnya. (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.