Surabaya - Pakar perkapalan ITS Surabaya Prof Ir Soegiono menilai kapal yang berfungsi sebagai kapal penumpang seperti Kapal Motor (KM) Kirana IX seharusnya jangan mengangkut barang yang mudah terbakar. "Umumnya, kapal itu terbakar karena unsur keteledoran. Operator kapal cenderung mengesampingkan bahaya kapal terbakar daripada kapal tenggelam, sehingga banyak fasilitas pemadam api di kapal-kapal kita yang aus," katanya di Surabaya, Rabu. Ia mengemukakan hal itu menanggapi tewasnya delapan penumpang Kapal Motor (KM) Kirana IX yang terbakar di Dermaga Gapura Surya, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya (28/9). Sementara itu, PT Dharma Lautan Utama (DLU) selaku pemilik Kapal Motor (KM) Kirana IX menegaskan bahwa yang terbakar bukan kapal, melainkan sebuah truk di dalam kapal yang mengangkut bawang bombay. Menurut Prof Soegiono yang juga mantan Rektor ITS itu, fasilitas pemadam kebakaran di kapal seharusnya mumpuni dan dilakukan pengecekan dengan rutin, sehingga ketika api mulai muncul di dalam kapal akan ada alat untuk mengatasi. "Itu catatan penting pihak otoritas yang berwenang untuk melakukan pengecekan terhadap peralatan pemadam kebakaran di kapal-kapal kita. Karena memang bahaya kebakaran lebih dianggap ringan daripada bahaya tenggelam," katanya. Selain peralatan, katanya, pengawasan kepada penumpang juga perlu diberlakukan, karena kebakaran juga dapat muncul akibat keteledoran para penumpang sehingga menimbulkan kebakaran. "Benda yang mudah terbakar yang dibawa penumpang umumnya tidak diketahui. Berbeda dengan keselamatan di pesawat terbang. Penumpang saya kira perlu untuk memperhatikan hal itu seperti halnya di pesawat," katanya. Ia menambahkan bahaya kebakaran itu tidak ada kaitan dengan perubahan spesifikasi kapal dari kapal barang ke kapal penumpang atau sebaliknya, karena bahaya itu banyak ditentukan keteledoran dalam teknis berat kapal dan perlengkapan keselamatan. "Artinya, perubahan spesifikasi kapal itu boleh-boleh saja diubah, tapi keteledoran operator dan penumpang yang perlu ditinjau ulang seperti halnya pesawat terbang," katanya. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026