Washington (ANTARA/AFP) - Gedung Putih mendesak Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh memulai "penyerahan kekuasaan penuh", Jumat, beberapa jam setelah ia kembali ke negaranya di tengah gelombang protes anti-pemerintah. AS juga mengutuk "penggunaan kekerasan" terhadap demonstran dan meminta semua pihak mengendalikan diri dari permusuhan yang meningkat, kata juru bicara Gedung Putih Jay Carney kepada wartawan. "Mengingat ketidakstabilan saat ini di Yaman, kami mendesak Presiden Saleh memulai penyerahan kekuasaan penuh dan mengatur penyelenggaraan pemilihan presiden sebelum akhir tahun ini dalam kerangka kerja prakarsa GCC (Dewan Kerja Sama Teluk)," kata Carney. Saleh kembali dari Arab Saudi pada Jumat "untuk mempersiapkan pemilihan" setelah perawatan dan pemulihan diri selama tiga bulan akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan bom di kompleks istananya, kata seorang pejabat Saudi yang tidak bersedia disebutkan namanya. "Kami ingin melihat Yaman melangkah maju," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Victoria Nuland dalam sebuah pernyataan. "Apakah Presiden Saleh berada di dalam atau luar negeri, ia bisa membuat hal ini terjadi dengan mengundurkan diri dari kekuasaan dan mengizinkan negaranya bergerak maju," katanya. Setelah tiba di Sanaa pada Jumat, Saleh (69) menyerukan gencatan senjata dan perundingan untuk mengakhiri krisis. Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh telah menewaskan ratusan orang. Saleh berada di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sejak Juni setelah ia cedera dalam serangan bom terhadap istananya di Sanaa, namun ia menolak menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden. Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaeda, kehilangan dukungan AS. Pemerintah AS mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara, menurut sebuah laporan di New York Times. Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden, kata laporan itu. Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaeda akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS. Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan. Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026