Surabaya - Guru Besar Patobiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr dr Suhartono Taat Putra MS terpilih memimpin "Indonesian Neuroscience Society" (INS) atau Masyarakat Neurosains Indonesia 2011-2015. "Kami menyepakati nama untuk organisasi ahli kesehatan otak adalah INS dan Guru Besar Unair Prof S Taat Putra terpilih memimpin organisasi itu," kata Sekretaris Komite Pengarah Konferensi Nasional (Konas) I INS, Dr Taufiq Pasiak MPd MKes, di Surabaya, Rabu. Staf pengajar FK Universitas Sam Ratulangi Manado yang juga terpilih menjadi Sekjen INS 2011-2015 itu menjelaskan Konas I INS yang dibuka staf ahli Menkes Prof Budi Sampurna memutuskan tujuh nama sebagai pengurus INS yang didirikan di Surabaya (20/9) itu. Dalam susunan kepengurusan itu, Prof Taat Putra sebagai Ketua dibantu dua Wakil Ketua yakni Dr dr Djoni Wahyuhadi SpBS dan dr Akbar Muhammad SpS PhD DFM, sedangkan dirinya sebagai Sekjen dibantu seorang Wakil Sekretaris yakni dr Margarita Maramis SpKJ. Selain itu, Bendahara dijabat Dr dr Joko Santoso SpPD dengan dibantu Wakil Bendahara Dr dr Kurnia SpS. "Program utama kami adalah mendorong pemerintah menetapkan 'brain dekade', mendorong kepedulian masyarakat terhadap otak, dan mendorong perhatian dini kesehatan otak dalam keluarga," katanya. Menurut dia, perkumpulan ahli kesehatan otak selama ini sudah ada, tapi masih bersifat lokal, seperti Airlangga-Soetomo Neuroscience Society (ASNS) dan Kelompok Kerja Neuro Sains (KKNS) Badan Pelaksana Harian (BPH) Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ). "Yang jelas, otak yang tidak sehat mengakibatkan maraknya korupsi, tawuran, dan kekerasan, karena itu INS akan mendorong kesehatan otak masyarakat Indonesia. Kita jangan berpikir nutrisi untuk fisik, tapi juga nutrisi untuk otak," katanya. INS didirikan di sela-sela Konas I di aula Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang dihadiri Dekan FK Unair Prof DR Agung Pranoto MSc, Prof Dr Musa Asy'arie (rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta), Dr Jusuf Sutanto (psikolog Universitas Pancasila), dan Andreas Tejakusuma (Brain Dynamic Global Indonesia). "Otak selama ini hanya dipelajari dokter untuk penanganan penyakit, seperti gangguan syaraf, padahal dimensi otak manusia itu luas sekali sejak manusia belum lahir hingga dewasa, termasuk bagaimana berperilaku jujur, benar, dan adil," katanya. Selain itu, otak selama ini dihargai hanya sebagai kemampuan matematis, logis, dan hafalan, padahal anak-anak yang memiliki kelebihan dalam seni, kepemimpinan, olahraga, hubungan sosial, dan non-matematis itu juga "pintar" dan tidak layak diabaikan. "Jadi, neurosains itu penting untuk pendidikan karakter, pengembangan nilai-nilai spiritual, dan mencetak pemimpin bangsa yang berkualitas, karena itu neurosains harus dikembangkan dan karena itulah kami dari berbagai lintas disiplin ilmu mendirikan INS," katanya.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026