Kulon Progo - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) RI akan mempercepat pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dari 2010 hingga 2014 untuk jangka waktu lima tahun kedepan.
Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat di Wates Kamis mengatakan TNI AU akan memenuhi program minimum "esensial force" atau alutsista seperti yang telah diprogramkan pemerintahan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Presiden SBY berharap sebelum beliau masa jabatannya berakhir ada percepatan pengadaan alutsista. Sehingga saat masa jabatan beliau berakhir, TNI sudah kuat," katanya.
Rencananya dalam lima tahun kedepan, kata Imam, TNI AU akan menambah pesawat Super Volcano dari Brazil, Golden Eagle pengganti C-50 dari Korea dan fighting Falcon.
"Selain itu, Konggres Amerika pada 15 Agustus baru saja menyetujui bantuan pengadaan pesawat F-16 sebanyak 30 unit, yang rencananya 24 untuk operasional pengaman dan enam lainnya sebagai cadangan. Kerjasama ini perjanjian pemerintah dengan pemerintah," katanya.
Menurut dia, TNI AU juga akan melakukan kerjasama lagi dengan Korea Selatan untuk pembuatan pesawat yang lebih canggih dibandingkan dengan pesawat F-16 dari Amerika.
"Kerjasama dengan Korea tersebut, diharapkan hingga pada 2020, Indonesia kembali memiliki tambahan 50 unit pesawat yang memiliki kecanggihan diatas F-16," katanya.
Ia mengatakan, TNI AU juga sedang menunggu pengadaan pesawat Hercules dari Australia yang berfungsi sebagai pesawat untuk penanganan bencana seperti stunami, banjir dan bencana alam lainnya.
"Kami masih menunggu dari Australia seperti pengadaan pesawat Hercules untuk pengananan bencana. Sehingga jika terjadi bencana, dapat digunakan untuk membantu menangani seperti penyaluran bahan makanan atau untuk menyelamatkan korban bencana," katanya.
Menurut dia, banyak pesawat yang sudah ada perlu segara diganti karena usianya rata-rata mencapai 30 tahun baik buatan Rusia seperti Sukoi dan pesawat F-16 dari Amerika.
"Satu skuadron perlu segara diganti, kalau tidak diganti biaya perawatannya sangat tinggi. Selain itu, ada beberapa suku cadangan pesawat sudah tidak dibuat lagi karena pabrik yang membuat pesawat sudah tidak beroperasi," katanya.
Walau demikian, kata dia, meski beberapa pesawat sudah tidak dapat berfungsi secara maksimal, TNI AU akan memaksimalkan pesawat tempur untuk mengamankan wilayah NKRI dari Ancaman luar.
"Kami memprioritaskan penggunaan pesawat tempur untuk pengaman wilayah-wilayah yang mendesak dan rawan dari ancaman," katanya.
Ia mengatakan, untuk Ambalat yang menjadi wilayah sengketa antara Indonesia dengan Malaysia memang masih banyak pesawat dari Malaysia yang melintasi.
"Di Ambalat memang masih ada pesawat dari Malaysia yang masuk. Karena wilayah Ambalat belum ada kepastian hukum terkait status wilayah," katanya.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.