Jokowi mungkin menemukan antitesis dari keyakinannya bahwa jalan raya yang mulus adalah kunci memajukan negeri dan bagian tak terpisahkan dari konektivitas yang niscaya untuk negara seluas dan seheterogen Indonesia.
Dari video yang tersebar itu terlihat banyak sekali jalan raya yang rusak. Ini memunculkan ironi bahwa di tengah aktifnya elite kekuasaan berbicara tentang konektivitas, masih ada yang melihat jalan raya yang baik tidak sebagai bagian integral dari konektivitas.
Semua itu berawal dari anak muda bernama Bima Yudho, yang walau cara bertuturnya membuat gerah sebagian orang, tetap mewakili banyak orang di daerahnya yang menginginkan wilayahnya semaju daerah lain di Indonesia.
Dalam beberapa hal, sentilan Bima juga mewakili suara-suara lain di negeri ini yang mendamba jalan-jalan bagus di sekitar mereka.
Jalan-jalan yang rusak memang tak cuma di Lampung, walau dengan skala kerusakan yang mungkin tak seluas provinsi itu. Sayang, di beberapa tempat, persoalan jalan rusak kadang kala gagal mengusik mereka yang tengah berkuasa untuk bertindak.
Sementara itu di beberapa daerah, kemacetan dibiarkan terjadi bertahun-tahun tanpa solusi yang sistemik dan langgeng. Padahal, jalan yang macet tidak lebih baik dari jalan yang buruk.
Banyak orang penting latah tentang pemberdayaan ekonomi, memajukan pariwisata, dan menyuarakan konektivitas, tapi lupa mengaitkan semua itu dengan upaya menghadirkan jalan raya bagus dan baik yang bisa mendorong konektivitas pada tingkat paripurna.
Situasi semakin miris jika melihat kondisi di banyak negara yang tak lebih makmur dari Indonesia, namun begitu memedulikan hadirnya jalan raya yang mulus, dari perdesaan sampai daerah urban.
China, misalnya. Negara yang sampai dekade 1980-an dicibir tertinggal jauh itu berubah meraksasa seperti sekarang. Salah satu fondasi untuk berangkat ke tahap itu adalah agresif membangun jalan raya yang menghubungkan siapa pun dan daerah mana pun di negeri itu.
Pewarta: Jafar M SidikUploader : Abdullah Rifai
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.