Jakarta - Kementerian BUMN mencatat laba bersih 18 BUMN Publik atau perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia pada semester I 2011 mencapai Rp34,570 triliun, naik 36,44 persen dari periode sama 2010 sebesar Rp25,34 triliun.
"Dari total laba bersih 142 BUMN pada semester I 2011 yang mencapai Rp69,88 triliun, kontribusi 18 BUMN Publik mencapai 49,47 persen," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis.
Menurut Mustafa, kinerja keuangan BUMN Terbuka ini dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan signifikan.
Dari 18 BUMN Tbk tersebut, selama semester I 2011 PT Bank BRI Tbk mencatat laba bersih tertinggi yaitu Rp6,82 triliun, disusul PT Bank Mandiri Rp6,33 triliun, PT Telkom Rp5,94 triliun, PT PGN Rp3,23 triliun, PT Bank BNI Rp2,73 triliun, PT Semen Gresik Rp1,87 triliun, PT Bukit Asam Rp1,61 triliun, PT Krakatau Steel Rp1,09 triliun, PT Aneka Tambang Rp996,71 miliar.
Selanjutnya PT Jasa Marga Rp753 miliar, PT Timah Rp651,88 miliar, PT Bank BTN Rp480,49 miliar, PT Wijaya Karya Rp139,09 miliar, PT Pembangunan Perumahan Rp44,99 triliun, PT Kimia Farma Rp36,96 miliar, PT Adhi Karya Rp21,63 miliar, PT Indofarma Rp6,27 miliar.
Sementara satu perusahaan, PT Garuda Indonesia membukukan rugi Rp185 miliar.
Mustafa mengatakan Kementerian BUMN selalu mendorong perusahaan milik negara untuk melakukan "go public" karena terbukti setelah listing di pasar modal kinerja keuangan lebih baik.
"Privatisasi melalui pola IPO mendorong terciptanya azas transparansi dan penerapan GCG (tata kelola perusahaan yang baik dan benar) pada setiap BUMN," tegas Mustafa.
Ditambahkannya, perusahaan akan lebih terbuka, sehingga pengawasan dan kontrol dari masyarakat atau publik menjadi lebih mudah. "Keterbukaan diharapkan bisa mendorong kredibilitas dan akuntabilitas lebih baik," ujar Mustafa.
Dari sisi kinerja saham, 18 BUMN Tbk di Bursa Efek Indonesia mampu menguasai 26,16 persen kapitalisasi pasar atau mencapai sekitar Rp862,07 triliun dari total kapitalisasi 428 emiten yang mencapai Rp3.337,59 triliun.
Meski jumlah BUMN Tbk hanya 18 perusahaan atau sekitar 4 persen dari total emiten di Bursa Efek Indonesia, namun pengaruhnya sangat signifikan terhadap transaksi saham.
"Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai indikator BEI dipengaruhi pergerakan harga saham BUMN karena merupakan merupakan "blue chip" atau saham unggulan seperti Telkom, Bank Mandiri, Bank BRI, PGN, Bank BNI, Semen Gresik, Aneka Tambang," kata Mustafa.
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.