Malang - Aksi pencoretan pemain menjelang digelarnya putaran II Liga Primer Indonesia (LPI) oleh manajemen Persema masih terus berlanjut. CEO Persema Didied Poernawan Affandi, Sabtu, mengatakan, pekan depan (Senin, 4/7) surat pencoretan terhadap dua pemain bersangkutan akan diserahkan. Kedua pemain itu adalah Sutaji dan Mohammad Ali. "Setelah Sutaji dan Ali, mungkin masih ada lagi pemain yang bakal kami coret dari tim. Namun, kami masih berkonsultasi dan berkoordinasi dengan jajaran pelatih dan asisten pelatih," tegas dosen Universitas Brawijaya (UB) tersebut. Sebelumnya Persema juga telah mencoret tiga pemain asing, yakni Robby Gaspar, Benoit Lang dan Han Sang Min. Sementara pemain lokal yang tidak luput dari pencoretan adalah Dedy Iman Sukanto (kiper). Lebih lanjut Didied mengatakan, pencoretan kedua pemain lokal itu semata-mata disebabkan oleh minimnya kontribusi yang bersangkutan terhadap Persema. Sutaji mengalami cedera cukup lama dan Ali dinilai belum mampu menunjukkan kualitasnya selama berkompetisi di LPI. Dengan dicoretnya Sutaji dan Mohammad Ali, maka Persema hanya memiliki 18 orang pemain. Padahal, pelatih Persema Timo Schuenemann sebelumnya mengatakan, idealnya Persema diperkuat oleh 25-26 pemain. Untuk menggenapi komposisi pemain menjadi ideal, kata Didied, paling tidak tim berjuluk Laskar Ken Arok itu masih membutuhkan 6-8 orang pemain lagi, baik asing maupun lokal. Sebelumnya Timo Schuenemann membidik pemain Bontang FC Kenji Adachihara, Guy Ambassa Gerard (Hongkong) dan pemain Deltras Sidoarjo Danilo Fernando serta Shohei Matsunaga (Persib Bandung). Hanya saja, sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda positif karena para pemain tersebut masih menunggu hasil kongres PSSI yang bakal dihelat di Solo 9 Juli mendatang. Saat ini Persema hanya memiliki dua pemain asing, yakni Seme Pierre Patrick dan Ngon Mamoun. Sedangkan pemain lokalnya ada 16, di antaranya adalah M Kamri, Sukasto Effendi, Jaya Teguh Angga, Suroso, Munhar, Kim Jeffry Kurniawan, Kasan Soleh, dan Irfan Bachdim.


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026