Mahasiswa UMM Bidik Juara Karate SKIF di Itali

id mahasiswa UMM, karate, SKIF Itali

Mahasiswa UMM Bidik Juara Karate SKIF di Itali

Shofia Nur Yustina saat memeragakan salah satu jurus dalam karate (istimewa)

Malang (Antaranews Jatim) - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  Shofiyah Nur Yustina,  membidik medali sekaligus gelar juara dalam kompetisi karate internasional yang diselenggarakan Shotokan Karate-Do International Federation (SKIF) di Itali pada Januari 2019.
       
"Sekarang saya masih mencari sponsor untuk bisa kembali bertanding di ajang SKIF Januari mendatang. Saya ingin bertanding kembali di SKIF karena lawannya sekarang lebih menantang, yakni para pemenang pelatnas-pelatnas dari berbagai negara," kata Shofiyah Nur Yustina di malang, Jawa Timur, Rabu.
       
Ia mengaku ketika masih duduk  di bangku SMA,  ia sudah berhasil menyabet dua medali emas di kejuaraan internasional yang diselenggarakan SKIF di Itali. Dan, keinginannya kembali berlaga di ajang tersebut dengan meraih hasil yang lebih baik daripada ketika masih SMA.
       
Keinginan Shofi untuk meraih prestasi lebih tinggi di ajang internasional tersebut dilandasi prestasi nasionalnya yang juga tidak kalah moncer. Pada September 2018, Shofi yang tercatat sebagai mahasiswi baru Program Studi Manajemen itu telah menyabet tiga medali sekaligus melalui karate.
       
Shofi menyabet dua medali emas di Anjuk Ladang Karateka dalam pertandingan Kata Perorangan dan Bondowoso Ijen Championship di kategori yang sama. Masih di bulan yang sama, Shofi juga menyabet medali perunggu di Bondowoso Ijen Championship dalam pertandingan Kumite Beregu.
       
"Saya ikut karate sejak kelas 4 SD, awalnya memang tertarik dan cuma coba-coba. Eh, jadinya ikut karate beneran," kata Shofi yang sudah memenangi berbagai kejuaraan sejak kelas 5 SD.
       
Pilihan untuk menjadi atlet karate tersebut, Shofi didukung penuh oleh sang ayah yang menginginkan anaknya menjadi perempuan tangguh dan tahan banting. Sedangkan sang ibu juga memberikan dukungan penuh, tapi setiap kali Shofi berlaga sang ibu selalu enggan melihat anaknya cedera. "Dulu saya pernah kena tendang di kepala sampai pernah kurang bisa mendengar sampai beberapa hari," tuturnya.
       
Shofi ingin mewujudkan cita-citanya menjadi atlet karate internasional. Ia berlatih karate setiap hari selama tiga sampai empat jam. Namun, ketika menjelang pertandingan, ia fokus mengikuti training camp yang dilaksanakan selama tiga bulan dan berlatih selama delapan sampai sembilan jam per hari.
       
Meskipun bercita-cita menjadi atlet karate internasional, Shofi tidak meninggalkan kuliahnya. Ia tetap giat belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan dosen.
       
"Karena jadi atlet aja tidak bisa menjamin masa depan, jadi harus mandiri. Jadi pesan saya kepada teman-teman yang mengikuti kejuaraan olahraga, jangan cepat menyerah dan tetap harus bisa menyeimbangkan antara kejuaraan, kuliah, dan mengerjakan tugas," pungkasnya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar