Namun, ketenangan, kenyamanan dan kecerahan Ibu Kota Propinsi Jawa Timur itu tiba-tiba diruntuhkan oleh suara ledakan-ledakan di sejumlah titik.
Ledakan tersebut setidaknya menghanguskan tiga kawasan berikut sejumlah korban luka dan meninggal dunia. Tiga lokasi yang terdengar ledakan itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel, GKI di Jalan Diponegoro dan GPPS Sawahan di Jalan Arjuna.
Korban tidak hanya jemaat yang saat itu sedang melaksanakan ibadah di gereja, tapi ada pula polisi.
Aparat kepolisian saat ini terus melakukan penyelidikan dan penyidikan serta olah tempat kejadian guna mengetahui lebih jauh dari peristiwa tersebut.
Banyak pihak mengutuk keras peristiwa pengeboman tersebut siapa pun pelakunya, apa pun alasannya.
Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Surabaya mengecam tindakan pengeboman yang diduga dilakukan teroris di tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu pagi. "Kami Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya meminta aparat keamanan untuk mengusut tuntas pelaku pengeboman," kata Ketua PD Muhammadiyah Surabaya Mahsun Jayadi di Surabaya, Minggu.
"Kami meminta seluruh warga Surabaya untuk waspada dengan menjaga kota ini," lanjutnya.
Atas peristiwa ini, PD Muhammadiyah Surabaya menyiapkan anggota Kokam untuk membantu penanganan korban. Bantuan tersebut sesuai dengan visi Muhammadiyah yang dengan teguh memperjuangkan puncak kebaikan bagi ummat, bangsa, dan kemanusian.
"Kami sangat menentang peristiwa peledakan bom yang terjadi pagi ini di gereja Surabaya, apa pun motif dan
alasannya, siapa pun pelakunya," katanya.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan ada dua orang tewas dalam peristiwa itu. "Kami lihat terjadi upaya bunuh diri yang sudah diidentifikasi satu orang meninggal dunia," kata Barung.
Barung mangatakan selain pelaku bom bunuh diri meninggal dunia di TKP, satu orang meninggal dunia di rumah sakit. "Ada korban luka-luka yang saat ini dibawa ke rumah sakit. Dua dari anggota kepolisian yang tengah berjaga dan masyarakat," ujarnya. Aparat terus melakukan identifikasi korban sehingga ada kemungkinan jumlah korban bertambah.
Berbagai kalangan menangapi peristiwa tersebut menyatakan masyarakat Surabaya tidak pernah takut oleh teroris, karena sejarah membuktikan bahwa dari Surabaya lahir pahlawan pejuang kemerdekaan.
Festival Batal
Terkait dengan peristiwa pengeboman, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membatalkan kegiatan tahunan Festival Rujak Uleg 2018 yang semestinya digelar di Kya Kya Jalan Kembang Jepung pada Minggu ini.
"Ini instruksi dari wali kota agar acara itu dibatalkan," kata Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser mengutip pernyataan Risma yang kini dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara kedinasasn di Arab Suadi.
Pembatalan acara tersebut karena prihatin atas kejadian pengeboman yang terjadi di tiga geraja yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Ngagel, GKI Diponegoro dan GPPS Sawahan Arjuna.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya langsung menyampaikan kepada semua peserta Festival Rujak Uleg 2018 baik di tingkat organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, kelurahan hingga warga. "Kami punya data pesertanya sehingga langsung kami informasikan," ujarnya.
Rencananya sekitar 1.500 dari 275 grup akan meramaikan Festival Rujak Uleg Surabaya 2018. Peserta terdiri dari kelurahan/kecamatan, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya, peserta umum, peserta dari hotel, serta tamu kehormatan dari dalam dan luar negeri. (*)
Pewarta: Slamet Hadi PurnomoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.