"Pasien penderita demam berdarah dengue di rumah sakit sampai saat ini memang tergolong banyak dan terus meningkat dan penderita akibat gigitan nyamuk tersebut didominasi anak-anak dan balita," kata Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Abdoerrahem Situbondo Imam Hidayat kepada sejumlah wartawan di Situbondo, Rabu.
Ia menyebutkan, sejak pertengahan Desember 2016 saja jumlah penderita DBD sebanyak 35 orang, sedangkan pada awal Januari 2017 sebanyak 25 penderita dengan total keseluruhan 55 pasien.
Dari 55 pasien penderita penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu, kata dia, hingga saat ini 15 di antaranya masih menjalani perawatan medis (rawat inap) karena kondisinya masih belum stabil atau trombositnya masih di bawah 80 ribu.
Penderita DBD yang menjalani rawat inap di rumah sakit pemkab itu, lanjut Imam, mayoritas masih anak-anak dan balita karena mereka rentan dan mudah terjangkit demam berdarah di lingkungan rumah maupun di sekolah.
"Curah hujan tinggi yang terjadi sejak dua bulan terakhir memang memudahkan nyamuk cepat berkembang biak karena banyak masyarakat yang masih belum sadar tentang menjaga kebersihan," ucapnya.
Sementara salah seorang keluarga penderita DBD asal Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Samiyatun, mengatakan bahwa sudah lima hari merawat anaknnya karena terjangkit demam berdarah dengue.
"Awalnya demam atau panas tinggi selama tiga hari dan selanjutnya saya bawa ke rumah sakit dan ternyata setelah diperiksa dan dari hasil diagnosa dokter, anak saya menderita DBD. Dan alhamdulilah hari kelima ini kondisi anak saya sudah mulai membaik," katanya.(*)
Pewarta: Novi HusdinariyantoEditor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.