Turunnya nilai ekspor dan impor ini karena tren rutin yang selalu terjadi selama libur Hari Raya Idul Fitri, bahkan dalam kurun 5 waktu terakhir, sebab jumlah hari kerja berbagai perusahaan di Jawa Timur banyak berkurang, sehingga menjelang lebaran maupun sesudahnya, para pekerja banyak mengambil jatah libur
Surabaya, (Antara Jatim) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat kegiatan ekspor wilayah setempat selama Juli 2016 turun sebesar 40,06 persen, dari Juni 2016 sebesar 1.805 juta dolar AS menjadi 1.082 juta dolar AS pada Juli 2016.
     
Kepala BPS Jawa Timur Teguh Pramono di Surabaya, Senin mengatakan turunnya nilai ekspor juga dialami kegiatan impor komoditas di wilayah setempat, dan tercatat turun sebesar 21,3 persen atau senilai 1.238 juta AS dibandingkan sebulan sebelumnya, yakni 1.573 juta AS.
      
"Turunnya nilai ekspor dan impor ini karena tren rutin yang selalu terjadi selama libur Hari Raya Idul Fitri, bahkan dalam kurun 5 waktu terakhir, sebab jumlah hari kerja berbagai perusahaan di Jawa Timur banyak berkurang, sehingga menjelang lebaran maupun sesudahnya, para pekerja banyak mengambil jatah libur," katanya.
      
Teguh mengatakan semua komoditas ekspor Jawa Timur jatuh, kecuali bahan-bahan kimia organik yang naik 4,23 persen atau sebesar 71,51 juta dolar AS. 
     
Ia menjelaskan meski mengalami penurunan, Jawa Timur masih menjadi provinsi yang ekspor non-migasnya didominasi oleh perhiasan/permata, yakni senilai 197,67 juta dolar AS, dan jika Juni tercatat nilainya sebesar 437,55  juta dolar AS atau turun 54,83 persen. 
     
"Swiss menjadi negara tujuan ekspor perhiasan utama, disusul Jepang dan Amerika Serikat," kata Teguh dalam keterangan pers hasil ekspor impor di Kantor BPS Jatim.
      
Sementara untuk alas kaki buatan pengrajin dan perusahaan di Jawa Timur masih digemari oleh pasar Amerika Serikat, dan mencatatkan nilai ekspor senilai 2,84 juta dolar AS untuk dikirim ke Amerika Serikat, disusul Jepang 1,85 juta dolar AS dan Cina 1,75 juta dolar AS.
      
Sedangkan untuk impor, kata Teguh didominasi mesin-mesin dan peralatan mekanik sebagai barang modal, yakni sebesar 102,23 juta dolar AS, dengan impor tertinggi mesin atau alat berat dari Cina senilai 2,26 miliar dolar AS.
     
Kemudian, diikuti besi dan baja sebesar 84,36 juta dolar AS, serta plastik dan barang dari plastik 75,12 juta dolar AS, kemudian ampas atau sisa industri makanan sebesar 61,89 juta dolar AS, dan pupuk sebesar 48,88 juta dolar AS.
     
Sementara itu, secara kumulatif nilai ekspor pada periode Januari-Juli 2016 tercatat 11,267 miliar dolar AS atau naik 8,82 persen dibandingkan 
periode yang sama pada 2015 sebesar 10,354 miliar dolar AS.
      
Sedangkan untuk nilai impor pada periode yang sama tercatat 10.113,41 juta dolar AS, atau turun 12,46 persen dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 11.552,99 juta dolar AS.(*)


Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026