Jakarta,  (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak melemah sebesar 34 poin sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG  di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah tipis sebesar 1,84 poin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu pagi, bergerak melemah sebesar 34 poin menjadi Rp13.281 dibandingkan posisi sebelumnya pada posisi Rp13.247 per dolar AS.

"Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia termasuk rupiah setelah pimpinan Federal Reserve mensinyalkan optimismenya pada prospek ekonomi Amerika Serikat untuk jangka pendek," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta.

Di hadapan komite perbankan, lanjut dia, The Fed menyatakan perekonomian AS telah membaik pada kuartal kedua dan pertumbuhan pasar tenaga kerja berpotensi mendukung pengeluaran konsumen.

Terkait suku bunga, ia menambahkan bahwa Federal Reserve masih tetap pada proyeksinya untuk menaikkan suku bunga secara bertahap. Berdasarkan indeks Fed Fund futures, ia mengemukakan bahwa terdapat harapan optimis dari pasar mengenai kenaikan suku bunga AS dapat terjadi secepatnya pada bulan Desember tahun ini.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa penguatan rupiah terhadap dolar AS tertahan seiring meningkatnya volatilitas menjelang hasil referendum, apakah keluar dari Uni Eropa atau tetap bertahan.

Kendati demikian, kata dia, peluang rupiah untuk kembali bergerak menguat terhadap dolar AS masih cukup terbuka menyusul kemajuan dalam pembahasan APBN-P 2016. Badan Anggaran dan pemerintah menyepakati asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dari sebelumnya 5,1 persen.

"Dinaikkannya asumsi pertumbuhan 2016 ke 5,2 persen secara tahunan dengan alasan dorongan dana 'tax amnesty' juga bisa meenjadi petunjuk bahwa RUU tax amnesty tidak lama lagi akan disahkan," katanya. 


IHSG
Sementara itu, IHSG  di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu dibuka melemah tipis sebesar 1,84 poin atau 0,04 persen menjadi 4.876,87.

"IHSG bergerak bervariasi, sempat mengalami tekanan di awal perdagangan, namun dalam perjalanannya indeks kembali bergerak menguat," kata analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pergerakan indeks BEI itu dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang cenderung negatif sementara dari dalam negeri cenderung positif. Sebagian pelaku pasar khawatir sentimen Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) mempengaruhi pasar keuangan di Indonesia.

Sementara dalam negeri, lanjut dia, sentimen domestik mengenai relaksasi ketentuan Loan to Value Ratio (LTV) serta penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi sentimen positif bagi saham sektor properti.

Pada pukul 09.45 WIB IHSG BEI terpantau berada di area positif atau naik 13,79 poin (0,30 persen) ke posisi level 4.892 poin.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan bahwa Inggris akan segera menentukan nasibnya apakah bertahan dalam Uni Eropa atau keluar. Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, banyak pihak yang memperkirakan bahwa bakal terjadi keguncangan finansial dari perekonomian Eropa dan khususnya Inggris.

"Pengaruh pada perekonomian Indonesia sebenarnya minim. Akan tetapi, karena jika Inggris keluar dari Uni Eropa maka bursa global akan terkena dampak negatif, sentimen tidak langsung dari bursa global itu yang bisa mempengaruhi IHSG terkena terkoreksi.

"Sejauh ini, lanjut dia, hasil dari lembaga polling masih menunjukkan bahwa rakyat Inggris cenderung memilih untuk bertahan dalam Uni Eropa," katanya.

Ia memperkirakan dengan sentimen yang relatif bervariasi, IHSG pada hari ini diperkirakan bakal bergerak di kisaran 4.865-4.900 poin dengen kecenderungan naik. Hanya penutupan di bawah level 4.865 poin yang bisa mengakhiri tren naik jangka pendek.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng melemah 92,34 poin (0,45 persen) ke level 20.576,10, indeks Nikkei turun 165,77 poin (1,03 persen) ke level 16.003,34, dan Straits Times menguat 13,01 poin (0,47 persen) ke posisi 2.802,30. 


Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026