Jakarta,  (Antara) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank dan Indek harga saham Gabungan  (IHSG), Selasa, sama-sama menguat.
 
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat sebesar 32 poin menjadi Rp13.911 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.943 per dolar AS.

"Faktor teknikal menjadi salah satu penopang bagi mata uang rupiah kembali bergerak menguat, namun penguatan itu masih cenderung terbatas seiring dengan masih maraknya sentimen negatif yang beredar di pasar terutama dari eksternal," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Selasa.

 Reza Priyambada mengemukakan sentimen negatif yang datang dari Tiongkok masih membayangi pasar uang berisiko seperti rupiah. Dengan pelemahan pada data manufaktur Tiongkok menyebabkan nilai mata uang yuan terdepresiasi yang diikuti oleh melemahnya sejumlah harga komoditas dunia.

"Melemahnya harga komoditas masih menjadi ancaman bagi mata uang berbasis komoditas, salah satunya rupiah. Nilai tukar rupiah masih menyimpan potensi pembalikan arah ke area negatif atau melemah," kata Reza.

Namun ia mengharapkan pemerintah yang optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi domestik dapat sesuai dengan yang dicanangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro RAPBN Tahun 2016 sebesar 5,3 persen dapat menjaga fluktuasi nilai tukar domestik bergerak stabil.

Sementara itu, analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong mengatakan bahwa mata uang rupiah masih rentan terkoreksi menyusul permintaan untuk aset mata uang "safe haven" masih cukup tinggi menyusul harga komoditas yang lemah.

Di sisi lain, lanjut Lukman Leong, sentimen di pasar uang juga belum lepas dari rencana bank sentral Amerika Serikat yang akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada tahun 2016 ini.

"Isu penting yang datang dari Amerika Serikat kembali mendapat sorotan pelaku pasar uang yakni rencana bank sentral AS yang akan kembali menaikan suku bunganya secara bertahap sebanyak empat kali masing-masing sebesar 25 basis poin (bps)," katanya.

IHSG

Sementara itu,  IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa dibuka menguat tipis sebesar 1,51 poin menyusul sebagian pelaku pasar yang melakukan aksi beli saham secara selektif.

IHSG BEI dibuka menguat sebesar 1,51 poin atau 0,03 persen ke posisi 4.527,43. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 0,42 poin (0,05 persen) menjadi 782,63.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya di Jakarta, Selasa mengatakan IHSG BEI bergerak menguat di tengah minimnya sentimen positif, faktor teknikal menjadi salah satu sentimen yang menopang indeks BEI untuk kembali bergerak menguat setelah mengalami koreksi cukup dalam pada perdagangan awal pekan (Senin, 4/1) kemarin.

"Sebagian pelaku pasar melakukan akumulasi beli secara selektif memanfaatkan saham-saham yang telah terkoreksi cukup dalam pada perdagangan kemarin (Senin, 4/1). Jika indeks BEI kembali mengalami koreksi maka dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk tetap melakukan akumulasi pembelian," kata William Surya Wijaya.

Ia mengharapkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini yang cukup optimistis dapat menjadi sentimen bagi pelaku pasar saham untuk tetap melakukan aksi beli sehingga mendorong indeks BEI lebih tinggi.

"Hari ini (Selasa, 5/1) IHSG berpotensi mengalami penguatan terbatas dan bergerak di kisaran 4.502-4.608 poin," katanya.

Sementara itu, Kepala Riset Firts Asia Capital David Sutyanto mengatakan melemahnya aktivitas manufaktur Tiongkok masih menjadi salah satu faktor penahan laju indeks BEI. Di sisi lain, pasar juga masih mengkhawatirkan ketegangan politik di Timur Tengah setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.

"Berbagai sentimen negatif tersebut dapat memicu aksi ambil untung di pasar saham terutama atas sejumlah saham sektor komoditas," kata David.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng naik 92,60 poin (0,43 persen) menjadi 21.419,72, indeks Nikkei menguat 74,90 poin (0,41 persen (*)

Pewarta: Supervisor
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026