Tulungagung  (Antara Jatim) - Aktivis dari LSM Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi Tulungagung, Mohammad Ichwan menengarai banjir bandang yang menerjang sejumlah desa di empat kecamatan di Tulungagung bagian selatan, Jawa Timur akibat vegetasi hutan setempat gundul atau rusak parah.        "Ada dua penyebab banjir kali ini, satu karena hutannya gundul dan kedua karena aktivitas pertambangan (batu marmer) yang masif," kata Ichwan usai meninjau lokasi bencana dan mengevaluasi penyebab banjir yang sempat merendam ribuan rumah penduduk tersebut.        Analisis itu menurut Ichwan mengacu kronologi asal air bah yang meluncur dari arah perbukitan sebelum akhirnya berubah menjadi banjir bandang dan menerjang puluhan permukiman di sejumlah desa di Kecamatan Bandung, Besuki, Campudarat, serta Kalidawir.      "Kalau pengelolaan hutannya lestari, tentu banjir itu tak akan pernah terjadi," katanya.      Sementara itu, mantan Kepala Desa Besole, Khoirul Huda mengungkapkan, kerusakan hutan di kawasan Bukit Teras dan Dringgoplo sudah terjadi sejak awal era reformasi, sekitar tahun 2.000 silam.      Ironisnya, kata dia, pembalakan masif terjadi hingga saat ini meski pemerintah melalui Perhutani sudah menerapkan kebijakan pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM).      "Hujannya memang deras sekali kemarin (Selasa, 7/4). Tapi penyebab utamanya ya memang karena hutan gundul tadi," ujarnya.      Karena vegetasi tegakan tanaman berkurang drastis, kata dia, air hujan terus mengalir di permukaan gunung/bukit dan langsung meluncur ke bawah tanpa sempat terserap ke dalam tanah.      Arus air berubah menjadi banjir bandang saat luncuran air dari puncak bukit/gunung berkumpul dalam satu aliran dan menerjang desa-desa dan pemukiman yang ada di bawahnya.      Kerugian akibat banjir bandang di daerah ini ditaksir mencapai miliaran rupiah. Selain kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan tanggul, banjir juga menyebabkan sekitar 700 hektare tanaman padi terendam dan terancam gagal panen. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo

COPYRIGHT © ANTARA 2026