Surabaya (Antara Jatim) - DPRD Kota Surabaya mengecam keras penghentian progam ajang pemilihan duta wisata Cak dan Ning pada 2015 karena anggaran yang biasa digunakan diahlikan untuk promosi wisata ke Singapura.
"Kapan hari itu paguyuban Cak dan Ning mendatangi saya. Mereka kaget, karena disaat mereka bertanya kegiatan progam Cak dan Ning ke dinas pariwisata ternyata progam itu akan dihilangkan, karena tidak ada anggaranya dari dinas pariwisata. Makanya mereka lapor kepada saya," kata Ketua DPRD Kota Surabaya, Armuji, di Surabaya, Jumat.
Menurut dia, seharusnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Wiwiek Widyanti harus lebih fokus dengan urusan ikon Kota Surabaya. Selama ini, lanjut dia, Disbudpar mengurusi masalah perizinan Rumah Hiburan Umum (RHU).
Selain itu, lanjut dia, Disbudpar dipimpin oleh Wiwiek Widjyanti promosi wisata di Kota Surabaya kurang menonjol. Hal ini dikarenakan dia tidak mempunyai jiwa seni dan tidak bisa memprotek Surabaya menjadi tempat wisata yang diandalkan.
"Ini kan sangat ironis sekali," katanya.
Namun, Armuji mengaku siap untuk mnyelenggarakan pemilihan progam Cak dan Ning jika nantinya benar-benar akan dihilangkan. Sebab, jika ikon seperti ini tidak ada bisa jadi kota Surabaya akan kalah dengan kota kecil lainya seperti Malang dan Gresik.
"Dewan siap kok mencarikan sponsor untuk menggelar progam Cak dan Ning ini. Wong anggaranya loh tidak terlalu banyak. Anak-anak itu tidak perlu pakai hadiah sudah seneng kok. Agar wisata di kota Surabaya bisa kembali hidup," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisbudpar), Wiwiek Widyanti enggan berkomentar saat ditanya oleh para awak media seusai dengar pendapat di komisi D DPRD Kota Surabaya.
Dirinya hanya menjawab singkat dan seolah ketakutan. "Tidak kok, no coment ya," jawabnya singkat. (*)
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.