Sumenep (Antara Jatim) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat deflasi yang terjadi pada Februari 2015 di daerah tersebut sebesar 0,56 persen melampaui deflasi di Jawa Timur 0,52 persen dan Nasional o,36 persen. "Deflasi yang terjadi di Sumenep sebesar 0,56 persen, sementara di Jawa Timur sebesar 0,52 persen dan Nasional sebesar 0,36 persen," ujar Kepala BPS Sumenep, Suparno di Sumenep, Selasa. Secara regional, kata dia, delapan daerah di Jawa Timur yang menjadi lokasi survei indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi. "Pada Februari 2015, semua daerah IHK di Jawa Timur mengalami deflasi. Tertinggi di Banyuwangi sebesar 1,02 persen, Kediri sebesar 0,83 persen, dan Malang sebesar 0,57 persen," ucapnya, menerangkan. Selanjutnya di Sumenep sebesar 0,56 persen, Jember (0,54 persen), Madiun (0,51 persen), Probolinggo, dan Surabaya, masing-masing sebesar 0,42 persen. "Deflasi yang terjadi di Sumenep diakibatkan penurunan harga pada tiga indeks kelompok pengeluaran," kata Suparno, menerangkan. Tiga kelompok tersebut adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,52 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga (0,07 persen), dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (1,99 persen). Sementara harga pada empat indeks kelompok pengeluaran lainnya tetap mengalami penaikan dengan persentasi lebih kecil, yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,11 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (0,75 persen), kelompok sandang (0,23 persen), dan kelompok kesehatan (0,04 persen). "Komoditas yang memberikan andil terjadinya deflasi adalah bensin, cabai merah, telur ayam ras, angkutan antarkota, bawang merah, udang basah, angkutan dalam kota, dan daging sapi," ujarnya. Suparno mengatakan, pada Januari 2015, Sumenep juga mengalami deflasi, yakni sebesar 0,27 persen. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026