Tulungagung (Antara Jatim) - Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Tulungagung, Jawa Timur, Supriyanto, mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok, khususnya beras dan gula pasir, relatif stabil dan tidak terjadi kenaikan mencolok. "Kami berasumsi demikian mengacu animo masyarakat terhadap kegiatan operasi pasar yang kami lakukan di sejumlah pasar tradisional," kata Supriyanto kepada Antara di Tulungagung, Minggu. Ia mengakui, kegiatan operasi pasar yang telah mereka gelar selama dua pekan di delapan titik pasar tradisional di Kabupaten Tulungagung, Trenggalek, Blitar, serta Kota Blitar tidak terlalu masif diserbu pembeli. Petugas Bulogmart dan sejumlah perwakilan Bulog Subdivre Tulungagung yang mengikuti langsung pelaksanaan operasi pasar bahkan tak jarang pulang dengan membawa kembali sisa paket-paket sembako jenis beras, tepung terigu, minyak goreng, serta gula pasir. Dua komoditas yang disebut terakhir sebenarnya paling laris, namun dari 600-700 paket kemasan yang disediakan panitia operasi pasar, terkadang barang tidak terjual habis. "Harga yang kami jual telah ditentukan oleh Pemprov Jatim, Bulog tidak berani menjual lebih tinggi atau di luar ketentuan. Jika banyak yang tidak terserap, artinya harga di luar hampir sama atau bahkan mungkin ada yang lebih murah," ulas dia. Supriyanto mencontohkan harga beras premium yang mereka jual dalam kegiatan operasi pasar tersebut. Kendati hanya dipatok harga sekitar Rp7.500 per kilogram, volume serapan komoditas utama pangan ini hanya sekitar tujuh ton selama dua pekan digelar OP. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan volume serapan gula pasir dan minyak goreng yang rata-rata menjadi buruan pembeli. "Ada yang sangat diminati, tapi ada pula yang kurang diminati. Tepung terigu adalah yang paling sedikit serapannya, mungkin karena waktunya masih jauh dari hari H Lebaran sehingga masyarakat belum panik untuk membuat jajanan roti dan semacamnya," imbuhnya. Kendati pihak Bulog mengklaim harga sembako cukup stabil selama Ramadhan, fakta lapangan menunjukkan harga sejumlah kebutuhan pokok, sayur-mayur terus mengalami kenaikan. Pantauan Antara, perubahan harga kebutuhan dapur tidak hanya terjadi pada komoditas telur, serta gula yang rata-rata naik di kisaran Rp1.000 hingga Rp3.000 per kilogram. Beberapa komoditas dapur lain seperti sayur-mayur, bumbu dapur serta lauk-pauk juga mengalami kenaikan hampir serempak. "Semua barang naik. Kami mendapatkan dari pengepul (pemasok) hasil pertanian rata-rata sudah tinggi, bahkan ada yang dua kali lipat dari sebelumnya," tutur Tyas, pedagang sayuran di Pasar Ngemplak, Tulungagung. Di sentra perdagangan tradisional ini, harga aneka komoditas dapur di antarpedagang memang tidaklah sama, tapi selisihnya tipis. Rata-rata bumbu dapur seperti bawang merah, cabai, hingga tomat mengalami kenaikan bervariasi, mulai Rp500 hingga Rp4 ribu per kilogram. Harga bawang merah impor, misalnya, saat ini dijual di kisaran Rp15 ribu per kilogram dari sebelumnya hanya dipatok harga sekitar Rp12 ribu per kilogram. Nilai jual bawang merah lokal kualitas sedang dan super bahkan lebih tinggi dibanding bawang merah impor yang memiliki ukuran besar, yakni masing-masing seharga Rp18 ribu per kilogram dan Rp20 ribu per kilogram. "Cabai rawit naik dari Rp5 ribu per kilogram pada sepekan lalu, menjadi Rp8,5 ribu per kilogram memasuki puasa hari pertama saat ini. Demikian juga dengan cabe keriting. Dulu harganya sekitar Rp5 ribu kini menjadi Rp7 ribuan per kilogram," papar dia. Beberapa komoditas sayuran, seperti mentimun, kentang, jagung, tomat, serta sawi daging rata-rata mengalami kenaikan sekitar Rp2 ribu per kilogramnya. (*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026