Surabaya (Antara Jatim) - Dirut PT Semen Indonesia (Tbk) Dwi Soetjipto menegaskan bahwa "eksekusi" itu lebih penting dalam mendorong kesuksesan seseorang, karena formulasi strategik sebaik apapun hanya berperan 10 persen untuk kesuksesan seseorang. "Jadi, jangan banyak berdebat untuk merumuskan formulasi dari sebuah strategi, karena eksekusi lebih menentukan hingga 90 persen, sedangkan formulasi strategik hanya berperan 10 persen," katanya dalam bedah buku yang ditulisnya di Grha ITS Surabaya, Jumat. Dalam bedah buku bertajuk "Road to Semen Indonesia: Transformasi Korporasi - Mengubah Konflik Menjadi Kekuatan" itu, ia menyatakan orang Indonesia biasanya merumuskan formulasi strategi cukup lama hingga 2-3 tahun. "Begitu formulasi berhasil dirumuskan, ternyata tantangan sudah berubah, sehingga strategi bisa keliru, karena itu jangan lama-lama berdebat soal formulasi, tapi langsung eksekusi saja," katanya dalam bedah buku yang dihadiri ratusan mahasiswa dan sivitas akademika ITS itu. Terkait eksekusi itu, Dwi yang juga alumni ITS (Teknik Kimia/1980) itu menyebut eksekusi yang dilakukannya adalah memanusiakan manusia untuk mewujudkan titik temu dari berbagai kepentingan mulai dari karyawan, direksi, hingga komisaris. "Jadi, sinergi itu penting, kemudian inovasi. Semen Indonesia yang mewadahi Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, dan Semen Vietnam adalah solusi dari sinergi dan inovasi itu," katanya dalam bedah buku yang diawali dengan peresmian Aula 'Oedjoe Djoeriaman' Teknik Kimia ITS yang mendapatkan 'CSR' Rp100 juta dari PT Semen Indonesia (Tbk). Bedah buku yang dibuka Rektor ITS Prof Ir Triyogi Yuwono DEA itu menampilkan tiga pembanding yakni Patdono Suwignjo PhD (ahli manajemen strategik), Prof Daniel M Rosyid PhD MRINA (Ketua PII Surabaya), dan Dr Rukmi Hadihartini (Direksi SDM Pertamina). "Pak Dwi itu anomali BUMN, karena beliau mampu menepis citra BUMN yang korup, manajemennya asal-asalan, dan karyawannya malas. Tapi, buku itu kurang menampilkan semacam panduan (model) bagi pembaca agar bisa meniru cara-cara sukses beliau," kata Patdono. Sementara itu, Ketua PII Surabaya yang juga pakar teknologi kelautan ITS Prof Daniel M Rosyid PhD MRINA mengaku tertarik dengan kesabaran dan fokus pada tujuan yang membuat Dwi Soetjipto cukup sukses dalam mengembangkan PT Semen Indonesia (Tbk) sebagai korporasi kelas dunia. "Sabar dan fokus pada tujuan itu pula yang dilakukan Nelson Mandela (pejuang HAM Afrika Selatan) dan Bung Karno (Bapak Bangsa Indonesia). Hanya saja, saya ingin tahu inovasi beliau untuk mewujudkan 'green cement' karena Pertamina sudah ke sana," katanya. Lain halnya dengan Direksi SDM Pertamina, Dr Rukmi Hadihartini. "Bukan hanya pengalaman beliau saja yang banyak, tapi cara berkomunikasi beliau dengan staf secara tatap muka itu menarik. Tidak hanya itu, beliau selalu melakukan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan itu pun disosialisasikan kepada staf," katanya. Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam seminar "Key of Success" yang diadakan Unit Kegiatan Mahasiswa 1 (UKM 1) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) memaparkan hal terpenting untuk sukses itu bukanlah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau. "Jika ada kemauan, nanti sukses akan menjadi bonusnya. Analoginya itu seperti emas yang ada 24 karat, 18 karat, hingga yang tidak berkarat. Kalau kamu mau tapi tetap tidak bisa, coba konversikan ke karat emas kemauanmu termasuk berapa karat," ujarnya. Hal yang paling ditakutkan Dahlan Iskan sendiri adalah pembunuhan akal sehat. "Tidak ada orang yang bisa maju kalau dalam pikirannya hanya menyalahkan orang lain," kata Dirut PT PLN itu didampingi Rektor UKWMS Drs Kuncoro Foe PhD. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026