Jombang (Antara Jatim) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku terkenang dengan lima pesan yang sering didiskusikan antara dirinya dengan almarhum saat Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden.
"Banyak sekali kenangan saya dengan Gus Dur. Kalau diceritakan semua, bisa dua hari dua malam tidak selesai. Namun dari itu semua, ada lima hal yang hingga kini masih saya ingat dari beliau," kata Presiden kepada para jamaah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jumat malam.
Ia mengatakan, kelima hal itu sampai saat ini masih layak. Beliau selalu memikirkan kehidupan bangsa Indonesia dan selalu menjadi agenda untuk didiskusikan.
Ia mengatakan, pemikiran Gus Dur itu di antaranya tentang keingiannya agar masyarakat rukun, tidak ingin melihat ada perselisihan dimana-mana, penuh toleransi, damai, serta saling menghormati.
Gus Dur, kata Presiden juga sangat gigih menghilangkan munculnya diskriminasi dengan alasan apapun, baik kebijakan yang diskriminatif maupun politik yang diskriminatif.
Pokok pikiran Gus Dur yang ketiga, lanjut dia, ingin agar peran negara dikurangi, tidak selalu dominan dan peran rakyat lebih diutamakan.
"Meskipun kita tinggalkan sistem otoritas menuju demokrasi berkualitas, masih ada bayang-bayang sistem otoritas," katanya memberikan gambaran pemerintahan yang terjadi.
Ke empat, lanjut dia lagi, negara tidak berhak untuk mengontrol pikiran warganya. Bagi masyarakat yang sudah matang, maka negara memberikan ruang kepada mereka. Kalau mengekspresikan sesuai dengan porsinya.
SBY kemudian memaparkan pemikiran Gus Dur yang ke lima, yaitu terciptanya hubungan yang sehat antara sipil dan militer.
"Banyak negara kekuatan militernya terlalu dominan, akhirnya demokrasi tidak hidup. Sebaliknya, ketika militer ditinggalkan, maka politik akan gaduh. Maka hubungan keduanya harus serasi. Masing-masing mengerti dimana domainnya," jelasnya.
Presiden didampingi sejumlah menteri ketika datang ke PP Tebuireng dalam puncak acara haul memperingati tahun keempat wafatnya Gus Dur.
Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati lokasi pondok. Bahkan, para jamaah juga rela menggelar tikar di jalan, karena tidak diperbolehkan masuk. Hanya para tamu undangan khusus, yang bisa masuk ke dalam lokasi pondok.
Gus Dur lahir di Jombang, pada 7 September 1940. Ia wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun. Tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik itu menjabat sebagai Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001, menggantikan Presiden BJ Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999.
Selama hidup, Gus Dur juga dianggap sebagai bapak Tionghoa, karena kebijakanya yang mengakui adanya agama ke-6 di Indonesia yaitu Konghucu. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa dan Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional. Setiap haul almarhum Gus Dur, etnis Tionghoa juga ikut berpartisipasi dengan menggelar atraksi liong dan barongsai.
Gus Dur dimakamkan di kompleks makam PP Tebuireng, Jombang. Ratusan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia selalu memadati lokasi makam tersebut.
Di makam itu, juga ada kakek Gus Dur yang sekaligus pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari, serta ayahanda Gus Dur KH Wahid Hasyim yang sekaligus Menteri Agama era pemerintahan Presiden Soekarno. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.