Situbondo (Antara Jatim) - Berkunjung ke Situbondo, Jawa Timur, tidak lengkap kiranya tanpa berwisata. Salah satu objek wisata alam yang menarik adalah di Taman Nasional Baluran. Kawasan wisata ini terletak di perbatasan Kabupaten Situbondo-Banyuwangi, sekitar 255 kilometer dari arah tanggara Surabaya. Lokasinya mudah dijangkau dan jalur cukup mudah, karena lewat di jalur utama dengan aspal hotmix. Pintu masuk menuju kawasan ini berada tepat di tepi jalan, sehingga wisatawan pun tidak kesulitan masuk ke daerah ini. Beragam tipe hutan ada di kawasan ini, sehingga banyak orang yang menyebut taman wisata ini sebagai miniatur hutan Indonesia. Tipe hutan tersebut di antaranya hutan pantai, hutan mangrove, rawa asia, hutan payau, padang rumput savana, hutan hujan pegunungan, hutan musim, padang lamun, serta gugusan terumbu karang. Beragamnya tipe hutan, berdampak pada semakin beragamnya habitat yang ada di kawasan tersebut. Ada sekitar 444 spesies flora yang tergolong dalam 87 familia, yang meliputi 24 jenis tumbuhan eksotik, 265 jenis tumbuhan penghasil obat, dan 37 jenis tumbuhan yang hidup pada ekosistem mangrove. Semuanya tumbuh subur hutan ini. Di tempat ini, beragam hewan juga tinggal seperti mamalia, reptil, dan beragam hewan lain. Bahkan, diketahui terdapat 47 jenis satwa yang dilindungi seperti banteng (Bos javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa (Cervus timorensis), kijang (Mutiacus muntjak), babi hutan (Sus scrova), serta sejumlah jenis hewan dilindungi lainnya. Selain itu, beragam jenis burung juga tinggal di kawasan ini. Kebutuhan mereka tercukupi, mengingat banyak sumber makanan di tempat ini. Mayoritas penghuni di kawasan hutan itu dilindungi. Aktivitas perburuan dilarang di tempat ini, sehingga seluruh hewan pun bisa tinggal dengan nyaman. Sejumlah hewan di lokasi ini ada yang mudah dijumpai, tapi ada juga yang sulit. Banteng liar misalnya, cukup sulit ditemui di kawasan ini. Untuk itu, pihak Taman Nasional Baluran kerja sama dengan Taman Safari Indonesia II Pasuruan, melakukan program "Breeding semialami". Alam nan-Eksotis Di taman nasional ini, terdapat sebuah gunung dengan nama Gunung Baluran (1.250 mdpl). Lokasinya, berada hampir tepat di tengah-tengah kawasan. Kawasan hutan yang juga daerah konversasi ini bertipe vegetasi savana. Kawasan ini sering dijuluki sebagai "Africa van Java". Hamparan savana, satwa liar, serta terik matahari yang cukup menyengat. Bahkan, saat kemarau, bisa mencapai 40 derajat celcius, semakin mengukuhkan julukan itu. Tak jarang, ketika berkeliling kawasan sering menjumpai rusa, mayoritas rusa timor. Dengan kelompok besar ataupun kecil, mereka mencari makan di areal savana. Tidak sulit ketika ingin mengambil gambar rusa yang sedang mencari makan dengan kelompoknya itu, namun jika mendekat mereka pun akan lari. Rusa di lokasi ini masih liar, tidak seperti di kebun binatang atau taman safari yang sudah sangat akrab dengan kehadiran manusia. Luas padang savana di tempat ini sekitar 10 ribu hektare. Secara keseluruhan, luas taman nasional ini mencapai 25 ribu hektare. Salah satu savana terbesar di taman nasional ini adalah savana Bekol seluas 300 hektare. Wisatawan hanya perlu menempuh jarak 12 kilometer dari pintu masuk. Menuju taman nasional ini tidaklah sulit. Pintu masuk ke taman ini berada di tepi jalur, antara Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi. Biaya masuk cukup terjangkau, untuk tiket masuk kawasan bagi wisatawan mancanegara Rp20 ribu, sementara dari wisatawan lokal Rp2.500 per orang, sementara untuk rombongan pelajar atau mahasiswa dikenai biaya Rp1.250. Untuk kendaraan roda empat dikenai tarif masuk Rp6.000 dan kendaraan roda dua Rp3.000. Sementara, untuk aktivitas wisata, yaitu "snorkling" untuk wisatawan nusantara Rp30 ribu, dari mancanegara Rp40 ribu per orang. Sedangkan, untuk bersepeda, wisatawan nusantara dikenai tarif Rp30 ribu, dan wisatawan mancanegara Rp50 ribu per orang. Untuk wisata berkano dikenai tarif Rp25 ribu untuk wisatawan nusantara, dan mancanegara Rp35 ribu per orang, serta sejumlah wisata lainnya. Suasana nyaman dan segar khas hutan menjadi suguhan sepanjang perjalanan menuju kawasan hutan. Sesekali, nampak hewan-hewan hutan terlihat, seperti ayam alas, rusa, sampai burung merak. Baluran menjadi salah satu tujuan wisatawan yang mendunia. Banyak wisatawan asing datang berkunjung ke tempat wisata ini. Pada 2010, tingkat kunjungan mencapai 15.188 orang, naik menjadi 28.851 orang (2011) dan 32.674 orang pada 2012. Fasilitas dan aktivitas wisata tempat ini juga cukup nyaman. Sejumlah aktivitas wisata yang sering dilakukan di antaranya mendaki gunung, jelajah hutan, "snorkling, diving, serta canoing". Semuanya terdapat petugas yang bersedia untuk menemani aktivitas para wisatawan. Fasilitas pun juga tidak kalah lengkap. Di lokasi ini, terdapat sebuah pusat informasi, yang terletak di kawasan batangan. Wisatawan dengan mudah bisa mendapatkan informasi terkait lokasi wisata. Di dalam kawasan, terdapat sebuah menara pandang. Di tempat ini, para wisatawan bisa mengetahui panorama kawasan dari ketinggian sekitar 20 meter. Selain itu, juga terdapat jalur "tracking", "camping ground", jalur mangrove, sampai tempat penginapan. Idham, salah seorang pengunjung merasa seperti di Afrika. Ia sangat menikmati pemandangan alam di kawasan ini. "Mirip seperti Afrika. Pemandangan alamnya bagus," katanya sambil terus mengabadikan pemandangan dengan kamera miliknya. Breeding Semi-Alami Di kawasan ini terdapat sebuah lokasi yang dijadikan sebagai kawasan breeding (pengembangbiakan) semialami, dengan fokus untuk pengembangan banteng. Kepala Balai Nasional Baluran Emy Endah Suwarni mengatakan ada tiga banteng yang dikembangkan dalam program breeding, satu jantan dua ekor lainnya betina. Ia menyebut, saat ini, satu ekor betina sudah melahirkan pada 31 Oktober 2013 lalu, melahirkan seekor banteng betina. Sementara, seekor banteng betina lainnya saat ini sedang hamil. "Kami utamakan habitatnya. Pengamanan juga kami perketat, agar tidak terlalu terganggu," ucapnya. Direktur Utama Taman Safari Indonesia II Pasuruan Toni Sumampau mengatakan penangkaran itu untuk meningkatkan populasi. Rencananya, program dilakukan selama lima tahun, dengan tiga indukan, namun jumlah itu bisa ditambah, demi mempercepat perkembangan. Ke depannya, jika populasi sudah semakin besar, hewan dari hasil breeding itu akan dilepaskan ke alam. "Di awal (program breeding) sudah disesuaikan dengan alamnya suhu, cuaca, dan tinggal masalah pakan saja," ucap Toni. Pihaknya berharap, program breeding itu bisa membuahkan hasil maksimal dan populasi bateng pun bisa berkembang dengan baik. (*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026