Salah satu savana terbesar di taman nasional ini adalah savana Bekol seluas 300 hektare. Wisatawan hanya perlu menempuh jarak 12 kilometer dari pintu masuk.
Menuju taman nasional ini tidaklah sulit. Pintu masuk ke taman ini berada di tepi jalur, antara Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi.
Biaya masuk cukup terjangkau, untuk tiket masuk kawasan bagi wisatawan mancanegara Rp20 ribu, sementara dari wisatawan lokal Rp2.500 per orang, sementara untuk rombongan pelajar atau mahasiswa dikenai biaya Rp1.250.
Untuk kendaraan roda empat dikenai tarif masuk Rp6.000 dan kendaraan roda dua Rp3.000.
Sementara, untuk aktivitas wisata, yaitu "snorkling" untuk wisatawan nusantara Rp30 ribu, dari mancanegara Rp40 ribu per orang.
Sedangkan, untuk bersepeda, wisatawan nusantara dikenai tarif Rp30 ribu, dan wisatawan mancanegara Rp50 ribu per orang. Untuk wisata berkano dikenai tarif Rp25 ribu untuk wisatawan nusantara, dan mancanegara Rp35 ribu per orang, serta sejumlah wisata lainnya.
Suasana nyaman dan segar khas hutan menjadi suguhan sepanjang perjalanan menuju kawasan hutan. Sesekali, nampak hewan-hewan hutan terlihat, seperti ayam alas, rusa, sampai burung merak.
Baluran menjadi salah satu tujuan wisatawan yang mendunia. Banyak wisatawan asing datang berkunjung ke tempat wisata ini. Pada 2010, tingkat kunjungan mencapai 15.188 orang, naik menjadi 28.851 orang (2011) dan 32.674 orang pada 2012.
Fasilitas dan aktivitas wisata tempat ini juga cukup nyaman. Sejumlah aktivitas wisata yang sering dilakukan di antaranya mendaki gunung, jelajah hutan, "snorkling, diving, serta canoing". Semuanya terdapat petugas yang bersedia untuk menemani aktivitas para wisatawan.
Fasilitas pun juga tidak kalah lengkap. Di lokasi ini, terdapat sebuah pusat informasi, yang terletak di kawasan batangan. Wisatawan dengan mudah bisa mendapatkan informasi terkait lokasi wisata.
Di dalam kawasan, terdapat sebuah menara pandang. Di tempat ini, para wisatawan bisa mengetahui panorama kawasan dari ketinggian sekitar 20 meter. Selain itu, juga terdapat jalur "tracking", "camping ground", jalur mangrove, sampai tempat penginapan.
Idham, salah seorang pengunjung merasa seperti di Afrika. Ia sangat menikmati pemandangan alam di kawasan ini.
"Mirip seperti Afrika. Pemandangan alamnya bagus," katanya sambil terus mengabadikan pemandangan dengan kamera miliknya.
Breeding Semi-Alami
Di kawasan ini terdapat sebuah lokasi yang dijadikan sebagai kawasan breeding (pengembangbiakan) semialami, dengan fokus untuk pengembangan banteng.
Kepala Balai Nasional Baluran Emy Endah Suwarni mengatakan ada tiga banteng yang dikembangkan dalam program breeding, satu jantan dua ekor lainnya betina.
Ia menyebut, saat ini, satu ekor betina sudah melahirkan pada 31 Oktober 2013 lalu, melahirkan seekor banteng betina. Sementara, seekor banteng betina lainnya saat ini sedang hamil.
"Kami utamakan habitatnya. Pengamanan juga kami perketat, agar tidak terlalu terganggu," ucapnya.
Direktur Utama Taman Safari Indonesia II Pasuruan Toni Sumampau mengatakan penangkaran itu untuk meningkatkan populasi. Rencananya, program dilakukan selama lima tahun, dengan tiga indukan, namun jumlah itu bisa ditambah, demi mempercepat perkembangan. Ke depannya, jika populasi sudah semakin besar, hewan dari hasil breeding itu akan dilepaskan ke alam.
"Di awal (program breeding) sudah disesuaikan dengan alamnya suhu, cuaca, dan tinggal masalah pakan saja," ucap Toni.
Pihaknya berharap, program breeding itu bisa membuahkan hasil maksimal dan populasi bateng pun bisa berkembang dengan baik. (*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.