Kediri (Antara Jatim) - Panen sejumlah komoditas untuk keperluan memasak yang berlimpah mengakibatkan deflasi di Kediri, Jawa Timur, pada September 2013 ini mencapai 0,28 persen berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya, Agustus 2013 yang justru mengalami inflasi sebesar 1,06 persen.      "Para petani sudah panen, sehingga stok pun juga melimpah. Ini mengakibatkan, harga relatif lebih stabil," kata Kepala Seksi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Lulus Hariyono di Kediri, Jumat.       Deflasi Kota Kediri yang terjadi di September 2013 ini dikarenakan beberapa kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga yang ditunjukkan oleh penurunan indeks yang cukup signifikan, sedangkan kelompok pengeluaran lain tidak mengalami perubahan yang signifikan.       Pada kelompok bahan makanan mengalami deflasi sebesar  1,81 persen dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi tertinggi sebesar 0,21 persen.       Sementara, kelompok lain justru mengalami inflasi, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,19 persen, kolompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar inflasinya sebesar 0,14 persen, kelompok Sandang inflasinya sebesar 2,06  persen,  kelompok kesehatan inflasinya sebesar 0,07 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga inflasinya sebesar 0,71 persen.      Pihaknya mengatakan, komoditas yang menyebabkan tekanan terjadinya deflasi di Kota Kediri ini di antaranya adalah emas perhiasan, daging ayam ras, perguruan tinggi, beras, sate, kentang, tempe, sampai minyak goreng.       Sementara, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap deflasi ini di antaranya bawang merah, tomat sayur, gula pasir, cabai rawit, telur ayam ras, wortel, kelapa, kacang panjang, dan pindang asin.      "Cuaca cukup baik, jadi panen pun juga baik. Bisa dilihat, sebagian besar makanan berupa sayur alami penurunan harga," jelasnya.       Walaupun saat ini terjadi deflasi, sehingga harga pun saat ini lebih relatif terjangkau oleh masyarakat, Lulus mengatakan para petani tidak mengalami kerugian. Harga di pasar tidak terlalu jatuh, yang membuat para petani pun masih mampu mendapatkan keuntungan.      Deflasi Kota Kediri pada September 2013 sebesar 0,28 persen ini mengakibatkan inflasi tahun kalender sebesar 7,32  persen dan inflasi periode  "year on year"  (September 2012-September 2013) mencapai 7,79 persen.      Dari tujuh daerah sebagai penimbang inflasi ataupun deflasi di Jatim, semua daerah mengalami deflasi, dan yang tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 1,44 persen, diikuti oleh Madiun  sebesar 0,75  persen, Malang sebesar  0,57 persen, Probolinggo deflasi sebesar 0,50 persen.       Kediri mengalami deflasi sebesar 0,28 persen dan  Jember  deflasi sebesar 0,24 persen. Sedangkan deflasi terkecil dialami Surabaya  sebesar  0,02 persen. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026