Baghdad (Antara/AFP) - Sebelas orang tewas dalam serangan-serangan di Irak, Senin, kata sejumlah pejabat, yang terakhir dari rangkaian kekerasan yang memburuk di negara itu meski operasi terhadap militan telah dilakukan selama beberapa pekan.
Korban mencakup enam orang yang diculik dari rumah mereka dan ditembak mati, kata pejabat-pejabat itu.
Di kota Tarmiyah yang berpenduduk mayoritas Sunni di sebelah utara Baghdad, orang-orang bersenjata yang memakai seragam polisi menggerebek sejumlah rumah dengan alasan melakukan operasi keamanan, kata polisi dan seorang pejabat kementerian dalam negeri.
Mereka menculik enam orang dan meninggalkan daerah itu.
Penduduk setempat menemukan mayat keenam orang itu beberapa jam kemudian di luar daerah tersebut, kata sumber-sumber keamanan. Sebuah rumah sakit lokal mengkonfirmasi menerima enam mayat dengan luka-luka tembakan.
Juga Senin, orang-orang bersenjata membunuh dua petugas penjara dan dua warga sipil dalam serangan-serangan terpisah di provinsi Nineveh, Irak utara, sementara ledakan bom pinggir jalan menewaskan satu orang di sebelah selatan Baghdad, kata sumber-sumber keamanan dan medis.
Serangan-serangan di Irak meningkat tahun ini, khususnya sejak operasi keamanan 23 April di sebuah lokasi protes Arab Sunni anti-pemerintah yang menyulut bentrokan-bentrokan yang menewaskan puluhan orang.
Kekerasan Senin itu merupakan yang terakhir dari gelombang pemboman dan serangan bunuh diri di tengah krisis politik antara Perdana Menteri Nuri al-Maliki dan mitra-mitra pemerintahnya dan pawai protes selama beberapa pekan yang menuntut pengunduran dirinya.
Lebih dari 800 orang tewas dalam serangan-serangan selama Ramadhan, yang telah menjadi salah satu bulan paling mematikan di Irak.
Berdasarkan data yang dihimpun PBB dan pemerintah Irak, Juli merupakan bulan paling mematikan dalam lima tahun dengan jumlah korban tewas lebih dari 1.000 orang. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.