Surabaya (Antara Jatim) - "Saya baru dua kali ini ikut mudik gratis di Graha Pena yang katanya sudah enam kali diadakan, tapi saya senang," kata pemudik asal Ponorogo, Sukirin. Ia mengaku biasanya mudik dengan mobil. "Jumlah anggota keluarga semakin bertambah sehingga nggak mungkin lagi, tapi mudik bersama itu menyenangkan, karena keselamatan lebih terjaga," ucap pedagang sayur ini lirih. Hal senada diungkapkan Misiyem asal Banyuwangi. "Enak dengan mudik bersama, karena lebih aman, apalagi ada pengawalan polisi," tutur pembantu yang sudah sudah empat kali ikut mudik gratis itu. Pandangan mereka tidak salah, karena aparat kepolisian dan birokrasi di Jatim melakukan serangkaian ikhtiar untuk mewujudkan mudik yang aman dan nyaman. Bahkan, Polda Jatim menyiagakan penembak jitu (sniper) pada puluhan titik rawan kriminal selama "Operasi Ketupat Semeru 2013" pada 2-17 Agustus. "Selama pengamanan arus mudik dan balik pada 2-17 Agustus itu, kami mengerahkan 13.184 personel yang sebagian di antaranya 'sniper'," kata Wakapolda Jatim Brigjen Pol Moechgiyarto di Mapolda Jatim di Surabaya (1/8). Setelah memimpin apel gelar pasukan Operasi Ketupat Semeru 2013, ia menjelaskan pasukan sniper yang disiagakan itu ada yang "mobile" (bergerak) dan "stationer" (siaga tapi siap digerakkan). "Saya tidak bisa menyebutkan jumlah pasukan sniper, tapi mereka akan ditempatkan di beberapa titik rawan kriminalitas, seperti pantura (Tuban, Lamongan, Gresik) dan Mantingan (Madiun)," ucapnya. Bahkan, sejumlah personel sniper yang sudah ditempatkan di Tuban pada beberapa hari lalu sudah mampu membekuk kawanan "bajing loncat" yang menggarong truk pengangkut sembako yang melintas di kawasan itu. "Yang jelas, target Operasi Ketupat Semeru 2013 adalah jumlah kecelakaan menurun, jumlah kriminalitas menurun, angka korban meninggal dunia juga menurun, serta arus lalu lintas lancar," tukasnya. Oleh karena itu, Operasi Ketupat Semeru 2013 adalah operasi kemanusiaan yang mengutamakan pencegahan kecelakaan dan kriminalitas. "Jangan pakai motor, tapi manfaatkan 423 bus mudik gratis yang disiapkan pemerintah, swasta, dan masyarakat," ujarnya. Secara terpisah, Kasubbid Penmas Polda Jatim Kombes Pol Suhartoyo Polda Jatim juga menyiapkan 39 "masjid bintang" bagi pemudik selama Operasi Ketupat Semeru 2013. "Ada 39 titik 'masjid bintang' yang disiapkan 39 polrestabes dan polres se-Jatim untuk melayani pemudik," kata Kasubbid Penmas Polda Jatim Kombes Pol Suhartoyo. Ia menjelaskan "masjid bintang" adalah masjid yang terletak di pinggir jalan raya pada sejumlah kabupaten/kota yang biasanya dilewati para pemudik. "Masjid bintang yang bekerja sama dengan MUI se-Jatim itu berfungsi untuk pemudik yang beristirahat sejenak, shalat, dan juga berbuka puasa, baik membawa makanan sendiri maupun membeli makanan pada sejumlah anjungan pada beberapa masjid bintang," paparnya. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan 243 titik pospam (pos pengamanan) untuk melayani masyarakat pemudik. "Ada juga 30 titik posyan (pos pelayanan) yang membantu pemudik," tuturnya. Pos pelayanan merupakan lokasi singgah pemudik untuk istirahat atau berbuka, bahkan ada bengkel untuk "service" motor dan tukang pijat juga ada untuk pemudik yang capek. Ada pula 26 titik pos pariwisata. "Yang jelas, Operasi Ketupat Semeru 2013 merupakan operasi kemanusiaan yang mengutamakan pencegahan kecelakaan dan kriminalitas," ucapnya. Bawa Gotong Royong Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono mengimbau pemudik di Jatim untuk mewaspadai 94 titik rawan macet, 90 titik rawan kecelakaan lalu lintas (laka lantas), 55 titik rawan bencana, dan 11 titik jalan rusak. "Titik rawan macet itu antara lain empat jalur di wilayah pantura, seperti Duduk Sampeyan di Kabupaten Gresik-Lamongan, Ketapang di Banyuwangi, 'fly over' Peterongan di Jombang, dan Simpang Mengkreng di Kabupaten Kediri," ungkapnya. Bahkan, katanya, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono sempat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke jalan layang atau "fly over" Peterongan, Jombang pada 2 Agustus lalu untuk memastikan kesiapan dilintasi kendaraan. Untuk 90 titik rawan laka lantas antara lain Jln. Raya Desa Tebalon, Duduk Sampeyan, Gresik-Lamongan; Jln. Lamongan-Babat KM 4, KM 9, dan KM 21 di Lamongan; Jln. Tuban-Widang KM 3-4, Semanding, Tuban; dan Jln. Raya Bakalan (depan Pospol) Balongbendo, Sidoarjo. Selain itu, Jln. Raya Mojosari-Japanan, Mojokerto; Jln. Bangsal, Mojokerto; Jln. Raya Bypass KM 46, Mojokerto; Jln. Raya Surabaya-Malang KM 37, Gempol, Pasuruan; Jln. Raya Desa/Kecamatan Kaponang, Situbondo; Jln. Raya Mantingan KM 9-15 Ngawi; dan Jln. Raya Desa Palem, Kertosono, Nganjuk. Untuk 55 titik rawan bencana antara lain rawan banjir di rua Semanyat-Bungah, Gresik; Widang, Tuban; Kraton dan Ngopak, Pasuruan; Desa Klodan, Ngetos, dan Gliman di Nganjuk; dan Desa Mantingan di Ngawi. Sementara untuk rawan tanah longsor, antara lain Desa Tegalombo, Pacitan; Desa Tugu, Trenggalek-Ponorogo; Payung-Pujon, Malang-Batu; Desa Sitiharjo, Malang-Lumajang; Desa Bajulmati, Genteng Kulon, dan Sempolan di Probolinggo-Banyuwangi; dan Desa Mrawan dan Kalibaru (Jember-Banyuwangi). "Di sejumlah titik rawan itu, kami menyiapkan personel kepolisian dan rambu-rambu peringatan, tapi pemudik juga sebaiknya beristirahat bila mengantuk dan jangan mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk," tukasnya. Setelah mudik yang aman, kalangan birokrasi di Jatim bekerja sama dengan swasta dan masyarakat merancang mudik yang nyaman dengan menyiapkan 423 kendaraan mudik gratis, baik bus, kereta api, maupun kapal laut. Menurut Gubernur Jatim Soekarwo, Pemprov Jatim pada tahun ini menyiapkan 432 bus untuk mengantarkan 134 ribu pemudik dengan berbagai moda transportasi, baik bus, kereta api, maupun kapal laut. "Ada 400-an armada bus AC dan cadangan yang disiapkan secara gratis untuk pemudik, lalu empat kapal laut yang besar untuk melayani pemudik di Kepulauan Kangean, Sumenep dan beberapa rangkaian kereta api ke kawasan pantura Gresik, Lamongan, dan Bojonegoro," paparnya. Tiap tahun, katanya, armada mudik gratis akan ditambah, bahkan tahun ini juga disiapkan 50 truk untuk mengangkut sepeda motor para pemudik. "Agar mereka tidak mudik dengan motor, sebab rawan kecelakaan," katanya saat melepas 2.537 peserta 'mudik gratis' dengan 50 bus ke sembilan kota tujuan di Graha Pena Surabaya (4/8). Sembilan kota tujuan dari "Mudik Gratis" di Graha Pena itu menyebar di Ponorogo, Trenggalek, Bojonegoro, Tuban, Kediri, Blitar (lewat Malang), Sumenep, Jember, dan Banyuwangi. Didampingi Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Rahmat Hidayat dan pimpinan Organda dan DLLAJ, ia mengimbau para sopir tidak 'ngebut' di jalan raya, karena para pemudik ingin berkumpul dengan keluarga. "Apalagi polisi di Jatim itu sabar, meski pakai brengos (berkumis), tapi mereka sudah minum pil sabar," ujar pejabat yang akrab disapa Pakde atau Pak Kumis itu sambil tersenyum. Namun, ada yang lebih penting dari tradisi mudik. Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta para pemudik yang berasal dari desa untuk membawa tradisi gotong royong dan saling menyapa ke Surabaya saat balik. "Kalau balik, jagalah Surabaya, apa yang baik dari ke kampung bawalah ke Surabaya, seperti gotong royong, saling menyapa," kata pejabat yang juga orang desa dan pada saatnya juga akan pulang kampung seperti para pemudik itu.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026