New York, (Antara/AFP) - Kurs dolar melemah pada Jumat (Sabtu pagi WIB), di tengah pasar yang bergejolak karena para pedagang menunggu pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve
minggu depan.
Euro diperdagangkan pada 1,3346 dolar sekitar 22.00 GMT (Sabtu 05.00 WIB), naik dari 1,3372 dolar pada saat yang sama Kamis.
Dolar jatuh menjadi 94,22 yen dari 95,31 yen pada akhir Kamis. Unit Eropa juga melemah terhadap mata uang Jepang, menjadi 125,74 yen dari 127,48 yen.
"Bulan Juni telah terbukti menjadi periode yang sangat tidak stabil di pasar valas karena dolar AS turun agresif terhadap banyak mata uang utama," kata Kathy Lien dari BK Asset Management.
"Sebagian besar volatilitas di pasar keuangan telah disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan Fed."
Pada Jumat, data produksi industri dan sentimen konsumen menunjukkan pelemahan dalam perekonomian AS.
Pertumbuhan masih terlalu hangat bagi Federal Reserve untuk mulai melepas program pembelian asetnya 85 miliar dolar AS per bulan, kata analis.
Kebanyakan mengabaikan gagasan Fed bisa mengumumkan langkah tersebut pada Rabu setelah akhir pertemuan dua hari.
Bank sentral juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga utamanya pada 0-0,25 persen, yang telah bertahan sejak akhir 2008.
Keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) minggu depan "dapat meningkatkan daya tarik mata uang cadangan sehingga bank sentral lebih melunakkan kebijakan moneternya," kata David Song DailyFX.
Yen, dianggap tempat yang aman bagi investor di masa ketidakpastian, terus menguat.
Keputusan bank sentral Jepang (BoJ) pada Selasa mempertahankan program stimulus besar-besarannya tidak berubah, mengecewakan para pedagang yang ingin melihat lebih banyak senjata ditambahkan ke ekonomi Jepang.
Dolar jatuh terhadap mata uang Swiss, menjadi 0,9212 franc dari 0,9215 franc pada akhir Kamis.
Tetapi pound melemah, diambil 1,5702 dolar dibandingkan dengan 1,5717 dolar. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.