Malang (Antara Jatim) - Wakil Menteri Pertanian Rusman Hariawan meminta agar Kemitraan Pertanian Berkelanjutan Indonesia (PISAgro) mengedukasi para petani binaannya untuk lebih maju yang akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatannya. "Kami berharap PISAgro juga mengedukasi para petani binaannya. Jadi tidak hanya sekadar diberikan subsidi atau bantuan saja, tapi ada keberlanjutan usaha yang dibangun dengan pondasi bisnis," tegas Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Hariawan kepada wartawan usai mengikuti prosesi HUT PISAgro yang pertama di Malang, Rabu. Ia mengakui memang ada kekhawatiran jika PISAgro yang beranggotakan 13 perusahaan besar di Tanah Air itu hanya memberikan kucuran subsidi sematan, tanpa ada edukasi yang berarti dalam meningkatkan produktivitas yang berkelanjutan di bidang pangan. Bahkan, lanjutnya, ada sebagian petani binaan yang khawatir jika pada tahun-tahun pertama sampai kedua, PISAgro memang memberikan subsidi kepada petani untuk produk tertentu, namun tahun berikutnya dilepas dan petani sudah telanjur bergantung. Petani, tegas Rusman, juga harus diedukasi terkait kalkulasi biaya produksi dan hasil panen. Jika petani memang harus membayar kebutuhan pertaniannya, maka harus tetap membayar, namun kalkulasi ekonomi tersebut harus transparan. Menurut Wamentan, biaya (cost) inilah yang selama ini masih dianggap sebagai beban oleh petani. Padahal, dengan biaya besar untuk mendapatkan hasil dan produktivitas maksimal akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang ketimbang biaya murah, tapi tidak ada keberlanjutan produksi. Menanggapi kekhawatiran para petani yang disampaikan kepada Wamentan tersebut Co-Chairman PISAgro Franky Widjaya menegaskan jika prinsip PISAgro tidak memberikan subsidi bagi petani, bahkan dana untuk membina petani tersebut bukan dari anggaran CSR. "PISAgro memang menaruh uang yang cukup besar dan itu masuk dalam anggaran untuk meningkatkan sekaligus mempercepat proses terwujudnya ketahanan pangan melalui sistem pertanian berkelanjutan," katanya. PISAgro menargetkan adanya peningkatan pendapatan petani sebesar 20 persen, meningkatkan produksi pertanian hingga 20 persen serta mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen pada tahun 2020. Komoditas pangan yang menjadi fokus pembangunan pertanian berkelanjutan untuk mengantisipasi ketahanan pangan di antaranya adalah padi (beras), jagung, kakao, kedelai hitam dan kuning, kelapa sawit, kopi, kentang serta susu. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026