Amsterdam (Antara/Reuters) - Willem-Alexander menjadi raja pertama bagi Belanda sejak 1890 pada Selasa, dengan naik tahta meskipun tanpa kekuasaan politik, namun tetap menjadi lambang penting bagi rakyat Belanda. Dengan mengerjabkan mata berkaca-kaca, mantan Ratu Beatrix melangkah di balkon istana kerajaan dan mempersembahkan putranya kepada khalayak oranye, yang memadati pelataran alun-alun Dam pada Selasa pagi. "Beberapa waktu lalu saya menyerahkan tahta. Saya bahagia dan bersyukur bisa memberi kalian seorang raja baru," kata Beatrix(75) yang pensiun setelah 33 tahun menjadi ratu. Kini Beatrix memakai gelar sebagai seorang putri. Massa, yang diperkirakan 25 ribu orang di pelataran alun-alun Dam, kebanyakan berbaju warna oranye, mengelu-elukan penyarahan tahta dan pergantian pimpinan kerajaan yang disiarkan langsung oleh media massa. Putri Beatrix yang mengenakan busana warna ungu dengan model sederhana, menandatangani dokumen abdikasinya di depan Kabinet Belanda, Willem-Alexander (46 tahun) dan istrinya, Maxima, mantan bankir dari Argentina. Ratu baru mengenakan busana atas berwarna merah muda pucat dan rok berkilau dan pita besar di bahu kiri hasil karya perancang Belgia, Edouard Vermeulen dari rumah mode Natan. Upacara penobatan mendapat sambutan yang dimaklumi di tengah harga rumah yang melonjak, pengangguran meningkat dan turunnya kepercayaan konsumen yang mendorong negara mengalami resesi. Tanggal 30 April adalah "Hari Ratu" di Belanda, yang merupakan hari libur saat rakyat berpesta, dan kali ini Amsterdam berselubung warna oranye oleh busana orang-orang, gedung dan rumah memajang umbul-umbul, bendera dan bunga warna oranye --warna kerajaan-- demikian pula etalase toko memajang kue, roti, bunga dan baju-baju dalam warna tersebut. Pemerintah berjanji untuk menekan biaya upacara penobatan --diperkirakan sekitar 12 juta euro-- di luar biaya untuk tindakan pengamanan. Seperti juga timpalannya di Inggris dan Swedia, keluarga kerajaan Belanda dikenal luas, terlihat dari hasil jajak pendapat Ipsos yang mencatat 78 persen responden memilih bentuk kerajaan, jumlah tersebut naik dari angka 74 persen pada tahun sebelumnya. Seperti juga anggota kerajaan lain, keluarga kerajaan juga menjadi sorotan atas skandal pernikahan, politik dan keuangan. Willem-Alexander menikahi Maxima pada 2002 dalam suasana kontroversial karena ayah Maxima, Jorge Zorreguita, adalah pejabat tinggi di Argentina di bawah kepemimpinan diktator militer 30 tahun silam. Maxima dengan cepat mengambil hati rakyat Belanda dan jajak pendapat memperlihatkan ia sama popularnya dengan ratu Beatrix dan malahan lebih terkenal dibanding suaminya. Pasangan tersebut diharapkan membawa sentuhan yang lebih luwes di kerajaan. Willem-Alexander, seorang pakar tata-kelola air, keahlian yang sangat bermanfaat bagi Belanda -- negara yang memiliki banyak tempat yang berada di bawah permukaan air laut, serta Maxima yang dikenal sebagai pegiat bagi orang miskin untuk memberikan akses pada layanan keuangan. Kekuasaan kerajaan tidak memiliki kekuatan politik, sesuai undang-undang yang ditetapkan dalam parlemen pada tahun lalu dan kerajaan tidak lagi menjadi penengah dalam perundingan untuk membentuk pemerintahan koalisi. (*)


Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026