Surabaya (Antara jatim) - Sekitar 2.013 wanita yang tergabung dalam Bonek dan komunitas RMT (Rek Ayorek Mlaku-Mlaku nang Tunjungan) akan membuat perayaan Kartini dengan cara unik di acara "Car Free Day" di Jalan Tunjungan Surabaya, Minggu (21/2).
Ketua Panitia Penyelenggara Perayaan Kartinian, Siti Nasyiah, di Surabaya, Jumat, mengatakan, acara tersebut akan dikuti dengan sejumlah permainan tradisional, seperti gobak sodor, dakon, ular tangga, egrang, hulahup dan lainnya.
"Acara ini selain memperkuat Jalan Tunjungan sebagai ikon Kota Surabaya, juga sekaligus mengedukasi pada generasi penerus untuk membangkitkan kembali dolanan tradisional yang kini sudah mulai dilupakan," katanya.
Menurut dia, permainan modern saat ini sudah menghegomoni hampir semua generasi penerus. Padahal permainan tradisional filosofinya sangat tinggi, salah satunya adalah dakon.
"Zaman dulu dakon diajarkan kepada para wanita karena wanita yang menjadi pemegang kendali keuangan keluarga. Pengelolaan keuangan itu diajarkan dalam dolanan dakon. Ada saatnya menabung, membelanjakan dan membagi-bagi," kata perempuan yang akrab disapa Ita ini.
Sayangnya, lanjut dia, permainan yang sarat pendidikan itu mulai musnah oleh modernisasi. Untuk itulah, Bonek yang sudah jadi ikon Surabaya bersama RMT mencoba membangkitkannya kembali agar sejarah tidak terputus.
Alasan dipilihnya Jalan Tunjungan, kata dia, mengingat di jalan itulah sejarah kemerdekaan Indonesia digoreskan. "Jika dulu 'arek-arek Suroboyo' merobek bendera merah putih biru dan mengusir sekutu, kini saatnya kami generasi penerus memperjuangkan Tunjungan jadi ikon Suroboyo. Seperti Jogya punya Malioboro, Bandung punya Braga Stone dan Tunjungan harus jadi etalase budaya dan tradisi Surabaya", katanya.
Ita mengatakan acara Kartinian ala Bonek dan RMT nantinya selain pesertanya mengenakan busana tradisional, bahasa yang wajib dikatakan adalah bahasa Suroboyoan (Surabaya).
Peserta yang sudah menyatakan kesediaannya untuk meramaikan acara tersebut tidak lain adalah para anggota DPRD Surabaya, PKK Surabaya, Bunda Paud se-Surabaya, Granat Surabaya, Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Surabaya, Ikatan Mahasiswa Pacitan (Impacs) di Surabaya, IWAPI Surabaya, Bonita, Firda Djoko Susilo (istri Dubes Swiss) bersama komunitasnya, Kibas (penggemar Batik Jatim), Lions Club, komunitas penyiar perempuan, BNNP Jatim, komunitas nol sampah dan pengacara perempuan.
Selain dihadiri sejumlah tokoh perempuan, kata dia, acara ini juga dihadiri kaum lelaki salah satunya anggota DPRD Jatim Saleh Mukadar dengan busana Warok Ponorogo, Pemimpin Umum Memorandum Sukoto serta masih banyak tokoh-tokoh lainnya. (*)
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.