Surabaya (ANTARA) - Setiap Idul Adha, gema takbir berkumandang di berbagai penjuru negeri. Dari kota besar hingga desa-desa kecil, gema takbir “Allahu Akbar” menyatukan jutaan manusia dalam satu rasa, yakni penghambaan kepada Allah SWT. Namun di tengah semarak itu, sering kali Idul Adha hanya berhenti sebagai ritual tahunan. Ia datang, ramai sejenak di media sosial, lalu berlalu tanpa meninggalkan jejak mendalam dalam kehidupan.
Padahal sejatinya, Idul Adha bukan sekadar tentang penyembelihan hewan qurban. Lebih dari itu, ia adalah pelajaran besar tentang keikhlasan, ketaatan, cinta, dan pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan hanya cerita masa lalu yang dibacakan setiap hari raya. Ia adalah cermin bagi kehidupan manusia modern yang hari ini justru semakin sulit belajar ikhlas dan taat.
Substansi Qurban
Di balik syariat qurban, sesungguhnya terdapat pesan spiritual yang sangat dalam: manusia tidak boleh diperbudak oleh apa pun selain Allah. Harta, jabatan, popularitas, bahkan keluarga, semuanya adalah titipan. Ketika manusia terlalu mencintai dunia, di situlah qurban menemukan relevansinya sebagai latihan melepaskan keterikatan yang berlebihan.
Qurban bukan pertama-tama tentang darah dan daging. Allah sendiri menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah hewan qurban, melainkan ketakwaan manusia. Qurban adalah tentang apa yang rela kita lepaskan demi nilai yang lebih tinggi. Dan sering kali, yang paling sulit dikorbankan bukanlah harta benda. Yang paling sulit justru ego, gengsi, ambisi, kesombongan, dan rasa ingin dipuji manusia.
Hari ini kita hidup di era ketika pencitraan jauh lebih mudah daripada keikhlasan. Media sosial membuat manusia sibuk validasi dalam membangun tampilan luar, tetapi lupa merawat isi hati. Banyak orang terlihat sukses, bahagia, bahkan religius di ruang digital, tetapi diam-diam hatinya lelah, kosong, dan jauh dari ketenangan.
Manusia modern semakin mahir menunjukkan citra, tetapi semakin sulit berdamai dengan dirinya sendiri. Kita hidup di zaman ketika validasi publik sering dianggap lebih penting daripada penilaian Allah. Kebaikan ingin segera dipotret, ibadah ingin segera diumumkan, bahkan sedekah pun kadang lebih sibuk mencari tepuk tangan dibanding keberkahan.
Idul Adha hadir untuk mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak hebat di mata manusia bernilai di hadapan Allah. Lantaran ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan seberapa besar pencapaian manusia, tetapi seberapa tulus hati ketika menjalani kehidupan.
Keikhlasan Ibrahim
Nabi Ibrahim AS adalah simbol keikhlasan yang paripurna. Setelah puluhan tahun menanti hadirnya seorang anak, Allah menganugerahkan Ismail di usia senja. Bayangkan betapa besar cinta seorang ayah kepada anak yang lahir setelah penantian panjang. Ismail bukan sekadar anak, tetapi cahaya harapan dan kebahagiaan di masa tua.
Namun justru ketika cinta itu tumbuh begitu kuat, Allah menghadirkan ujian yang sangat berat: perintah untuk menyembelih anaknya sendiri. Di sinilah hakikat qurban menemukan maknanya yang paling mendalam.
Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Tidak mudah bagi seorang ayah untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya. Tetapi Ibrahim menunjukkan bahwa keimanan sejati tidak hanya diucapkan dalam doa, melainkan dibuktikan dalam pengorbanan.
Keikhlasan Ibrahim bukan keikhlasan yang lahir tanpa rasa sakit. Ia tetap manusia yang memiliki cinta, air mata, dan kegelisahan. Namun di atas semua itu, ia memilih taat kepada Allah SWT.
Di zaman sekarang, manusia sering ingin menerima nikmat Allah tanpa siap menerima ujian-Nya. Kita mudah bersyukur ketika diberi kemudahan, tetapi mudah kecewa ketika diuji kehilangan. Padahal kehidupan memang tidak pernah dijanjikan selalu mudah.
Ada kalanya Allah mengambil sebagian yang kita cintai agar manusia sadar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi selain Dia.
Lantaran itu, spirit Ibrahim sesungguhnya sangat relevan bagi kehidupan modern. Ketika manusia hari ini terlalu mudah terikat pada materi, jabatan, dan popularitas, Ibrahim mengajarkan tentang keberanian melepaskan. Bahwa hidup tidak semata tentang memiliki, tetapi juga tentang merelakan.
Ketaatan Ismail
Di sisi lain, Nabi Ismail AS mengajarkan pelajaran yang tak kalah agung: ketaatan. Ketika Ibrahim menyampaikan perintah Allah itu, Ismail tidak membantah, tidak memberontak, dan tidak melarikan diri. Padahal ia masih muda dan masa depannya masih panjang. Namun ia menjawab dengan penuh ketundukan:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Ismail mengajarkan bahwa ketaatan lahir dari keyakinan dan kepercayaan penuh kepada Allah.
Di tengah zaman yang serba cepat seperti sekarang, pelajaran dari Ismail terasa semakin relevan. Teknologi berkembang pesat, informasi datang tanpa batas, tetapi banyak manusia justru kehilangan arah hidup. Anak-anak muda lebih banyak mendengar dunia dibanding mendengar nasihat agama dan orang tua.
Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi miskin percakapan dari hati ke hati. Gadget mendekatkan yang jauh, tetapi sering menjauhkan yang dekat. Padahal keluarga yang kuat bukan hanya yang mapan secara ekonomi, tetapi yang saling menguatkan dalam iman.
Keluarga Ibrahim mengajarkan bahwa rumah tangga sejati dibangun bukan hanya dengan cinta, tetapi juga dengan pengorbanan dan ketakwaan. Ibrahim yang ikhlas, Ismail yang taat, dan Hajar yang sabar adalah teladan tentang bagaimana iman menjadi fondasi utama keluarga.
Hari ini, banyak keluarga tampak harmonis di luar, tetapi rapuh di dalam. Rumah menjadi megah, tetapi miskin dialog. Kesibukan kerja dan dunia digital membuat manusia semakin jarang benar-benar hadir untuk keluarganya sendiri.
Oleh karenanya, Idul Adha sesungguhnya adalah momentum refleksi. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mempercantik kehidupan luar, tetapi lupa memperbaiki hati. Terlalu sibuk mengejar dunia yang sementara, tetapi kurang serius menyiapkan bekal menuju akhirat.
Mungkin hari ini kita belum mampu menjadi seikhlas Ibrahim. Kita juga belum setaat Ismail. Namun setidaknya, Idul Adha mengajarkan agar manusia tidak berhenti belajar ikhlas dan terus memperbaiki diri. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling hebat, paling kaya, atau paling terkenal. Hidup adalah tentang siapa yang paling tulus dan paling taat di hadapan Allah SWT.
Keterangan: Artikel ini disarikan dari materi khutbah idul adha, yang saya sampaikan, pada Rabu, 27 Mei 2026 di Kawasan Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kota Malang.
*) Penulis adalah Dosen S2 Terapan Teknik Infrastruktur Sipil, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026